Tim pengabdian terdiri dari: Akbar Farid, M.Sc. (Ketua), Feni Yulianti, M.Pd. (Anggota) M. Hayyi` Lana Alkhan, S.Hum., M.A. (Anggota), Efri Andini, S.E., M.Si. (Anggota), Darman Saputra, S.E., M.Sc. (Anggota), Shinta Lestari Oktariani, M.Pd. (Anggota), Mustofa Tohari, S.Pd.I., M.Pd. (Anggota), dan Rozi, S.Sos., M.A.    (Anggota).

Setelah penyampaian materi, peserta memperoleh penjelasan mengenai teknik dan komposisi bahan pembuatan kompos. Materi memperkenalkan komposisi 50 persen bahan coklatan, 30 persen bahan hijauan, dan 20 persen bahan tinggi nitrogen atau kotoran hewan sebagai bagian dari proses pengomposan.

Peserta kemudian diajak melihat langsung bagaimana bahan-bahan tersebut dapat disusun dan dikelola. Proses dimulai dari pemilihan lokasi, penyiapan bahan, penyusunan tumpukan, penyiraman hingga kelembapan yang sesuai, dan penutupan menggunakan terpal.

Keterlibatan langsung peserta menjadi bagian penting dalam kegiatan. Perangkat desa, KWT, PKK, Gapoktan, dan petani tidak hanya menyaksikan proses demonstrasi, tetapi memperoleh kesempatan untuk memahami dan mempraktikkan pengolahan bahan organik yang dapat mereka temukan di lingkungan sendiri.

Kompos sebagai Alternatif, Bukan Sekadar Produk

Dalam kegiatan tersebut, kompos juga diperkenalkan sebagai sesuatu yang dapat digunakan terlebih dahulu untuk kebutuhan masyarakat sendiri. Penggunaan sendiri dapat menjadi tahap awal sebelum masyarakat mengembangkan kompos sebagai produk yang dijual kepada petani lain.

Materi memperkenalkan beberapa kemungkinan pengembangan, mulai dari digunakan sendiri untuk membantu menekan biaya pupuk anggota, dijual secara curah kepada petani sawit, hingga dikemas dalam ukuran kecil untuk kebun sayur, tanaman hias, dan pembibitan. Untuk pengembangan lebih lanjut, konsistensi mutu, merek desa, dan pengelolaan melalui BUMDes disebut sebagai faktor yang perlu diperhatikan.

Artinya, kegiatan ini tidak menjanjikan bahwa kompos secara langsung akan menyelesaikan persoalan ekonomi petani. Sebaliknya, kompos ditawarkan sebagai salah satu opsi yang dapat dicoba masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya yang sudah tersedia, mengurangi sebagian ketergantungan terhadap input dari luar, dan pada tahap berikutnya melihat kemungkinan nilai ekonominya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan tujuan PKM yang tidak hanya memberikan keterampilan pembuatan kompos, tetapi juga memperkenalkan pemanfaatan sumber daya lokal sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Dari Kebun untuk Kebun, dari Desa untuk Desa

Melalui kegiatan ini, Program Studi Manajemen UBB mendorong masyarakat Desa Rajik untuk melihat potensi ekonomi tidak selalu harus berasal dari sumber daya baru. Sumber daya tersebut dapat berasal dari sesuatu yang selama ini dianggap sebagai sisa.

Pelepah sawit, kotoran ternak, bahan hijauan, dan material organik lainnya dapat menjadi bagian dari proses pengomposan. Dengan demikian, pendekatan yang diperkenalkan dalam kegiatan ini berangkat dari prinsip sederhana: memanfaatkan apa yang sudah dimiliki sebelum membeli apa yang harus didatangkan dari luar.

Gagasan tersebut menjadi relevan bagi masyarakat di wilayah kepulauan. Materi kegiatan menempatkan islandpreneurship sebagai upaya membangun aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan bahan lokal, tenaga lokal, dan pasar lokal.

Bagi petani Desa Rajik, pengolahan kompos juga membuka kemungkinan untuk membangun praktik pertanian yang lebih sirkular: material dari kebun tidak langsung dianggap sebagai limbah, tetapi dikembalikan melalui proses pengolahan untuk mendukung kebutuhan tanah dan tanaman.

Kegiatan PKM Program Studi Manajemen UBB di Desa Rajik diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan demonstrasi dan praktik. Pengetahuan yang diperoleh masyarakat diharapkan dapat diterapkan secara bertahap sesuai dengan kondisi dan ketersediaan bahan di desa.

Pada akhirnya, kegiatan ini membawa satu pesan sederhana: ketika biaya produksi semakin menjadi persoalan, salah satu pilihan yang dapat dikembangkan adalah melihat kembali sumber daya yang sudah tersedia di sekitar petani. Pelepah sawit yang sebelumnya belum memiliki nilai ekonomi dapat menjadi bahan kompos; kompos dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian; dan apabila dikelola secara konsisten, pemanfaatannya juga dapat dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi masyarakat.

Bagi Desa Rajik, inilah titik awal islandpreneurship: mengubah apa yang tersedia di kebun menjadi sesuatu yang berguna bagi kebun, masyarakat, dan ekonomi desa.