Tembus Rp70 Ribu per Kilo, Lonjakan Harga Ayam Seret Inflasi Beltim di September 2026
Kondisi ini berujung pada penurunan drastis volume tangkapan laut strategis. Situasi kian memprihatinkan karena sektor pertanian juga terpukul oleh kemarau panjang, cuaca panas ekstrem mempercepat pengeringan tanaman cabai di perkebunan, merusak kualitas fisiknya, dan memotong suplai pasar secara signifikan.
Langkah Pemkab Atasi Lonjakan Harga
Merespons lonjakan harga daging ayam ras yang sempat melambung tak terkendali di kisaran Rp50.000 hingga Rp70.000 per kilogram di tingkat pasar, Bupati Beltim, Kamarudin Muten melalui Staf Ahli Bidang Pembangunan Ekonomi dan Keuangan Setda Kabupaten Beltim, Bayu Priyambodo selaku perwakilan TPID menyampaikan bahwa pihaknya telah bersinergi dengan Bank Indonesia serta sejumlah vendor untuk menggelar operasi pasar daging ayam beku massal secara serentak di tujuh kecamatan.
“Langkah taktis ini kami nilai cukup berhasil dalam meredam gejolak harga dan menekan laju kenaikan harga daging ayam di tingkat pengecer ,” ungkapnya.
Sebagai langkah antisipasi jangka panjang agar inflasi tidak berulang, TPID juga menginstruksikan Dinas Perikanan untuk merumuskan strategi khusus dalam menjaga stabilitas pasokan ikan kerisi dan cumi-cumi, yang selama ini menjadi komoditas “langganan” pemicu inflasi bulanan
“Seluruh elemen daerah berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi demi menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat di Kabupaten Belitung Timur,” pungkasnya.

