Dampak Kekeringan Meluas, 1.673,14 Hektare Sawah di Bangka Selatan Belum Bisa Digarap
Gagal Panen (Puso): Mencapai 104 hektare. Dengan estimasi rata-rata produktivitas 4 ton per hektare, potensi kehilangan hasil panen diperkirakan mencapai 416 ton beras.
Lahan Tertunda Olah: Seluas 1.673,14 hektare masih menunggu ketersediaan air untuk memulai proses pembajakan dan penanaman.
Penyebaran Wilayah Terdampak Kendala pengolahan lahan tersebar di berbagai sentra produksi padi di Bangka Selatan:
• Kecamatan Toboali: 964,75 hektare (Desa Rias dan Desa Serdang)
• Kecamatan Pulau Besar: 254,25 hektare
• Kecamatan Airgegas: 262,25 hektare (Desa Pergam dan Desa Sidoharjo)
• Kecamatan Lepar: 93,2 hektare (Desa Penutuk dan Desa Tanjung Labu)
• Kecamatan Simpang Rimba: 53,69 hektare (Desa Sebagin dan Desa Gudang)
• Kecamatan Tukak Sadai: 20 hektare (Bukit Terap)
• Kecamatan Kepulauan Pongok: 15 hektare (Desa Pongok)
• Kecamatan Payung: 10 hektare
Ancaman Pergeseran Musim Panen Meskipun angka puso tahun ini sedikit lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai 117 hektare, kekhawatiran terbesar pemerintah daerah justru tertuju pada potensi mundurnya jadwal panen raya.
Biasanya mulai mengolah lahan sejak Agustus hingga Oktober kini terpaksa menunda aktivitas mereka. Jika hujan baru turun pada November atau Desember 2026, maka panen perdana yang biasanya jatuh pada Desember atau Januari diperkirakan baru bisa terealisasi sekitar Februari hingga Maret 2027.
Saat ini, upaya bantuan berupa pompanisasi terus dimaksimalkan, terutama di kawasan Desa Rias dan Batu Betumpang, guna menekan dampak kekeringan agar pengolahan tanah dapat berjalan perlahan.

