Bagi Arkan, kunjungan tersebut juga mengubah pandangannya terhadap industri pertambangan. Sebelum mengikuti kegiatan Duta Minerba, ia mengaku lebih banyak mendapatkan informasi mengenai pertambangan dari sudut pandang yang menyoroti dampak kerusakan lingkungan.

Namun, setelah melihat langsung aktivitas perusahaan, ia memahami bahwa kegiatan pertambangan juga memiliki tahapan pengelolaan lingkungan dan program pascatambang.

“Sebelumnya saya berpikir pertambangan lebih banyak menyebabkan kerusakan. Tetapi setelah mengikuti kegiatan Duta Minerba, saya melihat bahwa pertambangan tidak sesederhana itu. Ada proses pascatambang dan reklamasi lahan yang dilakukan,” katanya.

Ia juga terkesan ketika melihat program pendidikan PT TIMAH di Pemali Boarding School. Antusiasme para siswa dan kesempatan yang diberikan melalui program tersebut membuatnya melihat sisi lain dari kontribusi perusahaan.

“Saya melihat bagaimana perusahaan memiliki program pendidikan. Ketika melihat para siswa di Pemali Boarding School, mereka sangat antusias. Itu memberikan pengalaman dan membuka wawasan saya bahwa perusahaan juga memiliki perhatian terhadap pendidikan masyarakat,” ujarnya.

Arkan menilai pengalaman tersebut membuat pemahamannya mengenai pertambangan menjadi lebih utuh. Menurutnya, industri pertambangan tidak hanya berbicara mengenai aktivitas mengambil sumber daya alam, tetapi juga berkaitan dengan pengelolaan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, pendidikan, kesehatan hingga pelestarian budaya.

Hal senada disampaikan Gitta Valerinova, mahasiswa Teknik Geologi Universitas Lampung. Ia mengaku mendapat banyak pengetahuan baru setelah mengunjungi berbagai lokasi operasional dan program PT TIMAH.

“Selama kunjungan kami melihat berbagai tempat dan bagaimana proses penambangan timah dilakukan, termasuk penambangan di laut,” katanya.

Menurut Gitta, salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah bagaimana PT TIMAH menjalankan proses pertambangan dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan.

Ia secara khusus tertarik dengan aktivitas penambangan menggunakan Kapal Isap Produksi, pengelolaan lingkungan seperti artificial reef, serta program pendidikan melalui Pemali Boarding School.

“Yang paling menarik bagi saya adalah bagian penambangan di kapal isap, artificial reef, dan juga program beasiswa PT TIMAH di Pemali Boarding School yang memberikan kesempatan kepada para pelajar untuk meraih cita-cita,” ujarnya.

Bagi Gitta, melihat langsung proses bisnis memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan hanya mempelajari pertambangan melalui teori atau informasi yang beredar di masyarakat.

Melalui program Duta Minerba, PT TIMAH bersama Kementrian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan ruang bagi generasi muda untuk memahami industri pertambangan secara lebih objektif dengan melihat langsung prosesnya. (*)