Kesepakatan ekspor ini, lanjut Eko, mencakup satu palet berisi 50 karton lada putih Muntok dengan berat kotor 570 kilogram. Nilai transaksi tersebut mencapai €5.440 atau sekitar Rp110 juta, dengan pengiriman perdana dijadwalkan pada 21 Oktober 2026.

Peluang kerja sama ini bermula ketika buyer mengunjungi gerai Pemprov Babel di TEI 2026 dan melihat langsung produk yang dipamerkan. Setelah menilai produk sesuai dengan kebutuhan pasar, buyer memutuskan melakukan pemesanan awal atau trial order sebagai langkah untuk memulai kerja sama perdagangan.

Tidak berhenti pada transaksi pertama, kedua pihak melanjutkan komunikasi untuk membahas persiapan pengiriman dan peluang pemesanan berikutnya. Buyer memperkirakan pemesanan ulang dapat dilakukan sekitar tiga kali dalam setahun, sehingga potensi nilai transaksi dari satu buyer tersebut diperkirakan mencapai sekitar €16.000 atau lebih dari Rp300 juta per tahun.

“Capaian ini memperlihatkan peluang pengembangan lada Babel melalui rantai nilai ekonomi yang menghubungkan komoditas unggulan daerah dengan pengembangan produk dan perluasan akses pasar,” ungkapnya.

Selain memperkenalkan rempah khas Babel kepada buyer di pasar internasional, tambah Eko, partisipasi dalam pameran dagang juga menjadi sarana membangun jejaring bisnis yang berpotensi berkembang menjadi kemitraan jangka panjang.

“Melalui upaya tersebut, produk ekonomi kreatif Babel diharapkan semakin dikenal di pasar global, memiliki akses perdagangan yang lebih luas, dan mampu memperkuat kontribusinya terhadap perekonomian daerah,” harapnya.