5 Petugas BPBD Beltim Dilarikan ke Puskesmas usai Terpapar Asap Pekat Karhutla
Mendapat Penanganan hingga Dini Hari
Di Puskesmas Manggar, kelima petugas mendapatkan penanganan medis, termasuk pemberian oksigen dan obat-obatan sesuai tindakan petugas kesehatan. Menurut Robby, mereka menjalani perawatan sejak sekitar pukul 20.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB dini hari. Setelah mendapatkan penanganan, kondisi mereka berangsur membaik dan pada pagi harinya sudah kembali segar.
“Kita menduga adanya paparan asap di lokasi kebakaran menjadi pemicu gangguan kesehatan yang dialami para petugas. Terdapat bahan tertentu yang ikut terbakar sehingga menghasilkan asap dengan dampak lebih berat. Namun, penyebab medis maupun kandungan asap tersebut belum dipastikan,” terang Robby
Peristiwa ini menjadi gambaran risiko yang dihadapi petugas di lapangan ketika menangani karhutla. Bukan hanya panas dan api yang harus dihadapi, tetapi juga asap pekat yang dapat mengganggu kondisi tubuh selama proses pemadaman.
Robby yang didampingi Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekontruksi BPBD, Supandi menjelaskan, tingginya frekuensi karhutla sepanjang 2026 menjadi tantangan tersendiri bagi BPBD Beltim. Kebakaran kerap terjadi di beberapa lokasi dalam waktu bersamaan, sementara jumlah personel dan unit pemadam yang tersedia terbatas.
“BPBD Beltim mengerahkan lima personel dalam setiap giliran piket. Dengan pola kerja bergantian, petugas harus menjaga kesiapan selama 24 jam agar penanganan kebakaran dapat terus dilakukan,” kata Robby.
Untuk memperkuat penanganan, BPBD juga berkoordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja, unit pemadam kebakaran milik perusahaan, TNI, Polri, serta unsur masyarakat. Dukungan tersebut dibutuhkan terutama ketika kebakaran meluas atau berada di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.
Pada sejumlah kejadian, petugas BPBD harus masuk lebih jauh ke area kebakaran dengan membawa peralatan pemadaman yang dapat digunakan secara langsung di lapangan. Kondisi medan dan luasnya area terdampak menambah tantangan yang harus mereka hadapi.
Di tengah situasi tersebut, keselamatan petugas menjadi hal yang tidak dapat diabaikan. Peristiwa yang dialami lima anggota Regu Alfa mengingatkan bahwa upaya memadamkan karhutla membutuhkan kesiapan personel, perlengkapan pelindung yang sesuai, serta penanganan yang memperhatikan kondisi kesehatan petugas.
Di balik setiap api yang berhasil dipadamkan, ada tenaga, waktu, dan risiko yang dipertaruhkan. Karena itu, mencegah kebakaran sejak awal bukan hanya soal menjaga lahan dan lingkungan, tetapi juga membantu melindungi mereka yang berada di garis depan untuk memadamkannya. (lawang beltim)

