Gotong Royong yang Mengancam
Norovirus (sangat mudah menular dari sisa makanan yang terkontaminasi atau tisu bekas muntahan/diare). Virus ini menjadi penyebab utama flu perut (gastroenteritis) akut dengan gejala muntah dan diare hebat.
Rotavirus (sering ditemukan pada popok bayi bekas di tempat sampah). Virus ini menjadi penyebab utama diare parah pada bayi dan anak-anak.
Virus Hepatitis A (dapat mencemari tempat sampah melalui limbah tinja pada popok atau makanan yang terkontaminasi). Virus ini menyerang fungsi hati dan menyebabkan penyakit kuning.
Virus Influenza (berasal dari masker medis bekas, tisu, atau saputangan yang digunakan oleh orang yang sedang sakit flu di rumah).
Jika kita mencermati kandungan mikroorganisme dalam sampah rumah tangga di atas, muncul kesimpulan bahwa kegiatan gotong royong bersih-bersih tersebut sangat berisiko. Terdapat risiko tinggi terjangkit bakteri dan virus serta tertular penyakit. Begitu pula jika dikaitkan dengan perspektif keagamaan mengenai najis dan kehalalannya.
Walaupun ada cara menghindari risiko tersebut saat gotong royong dengan catatan semua alat harus disiapkan oleh ASN secara mandiri pencegahan infeksi bakteri dan virus dari sampah rumah tangga tetap memerlukan protokol ketat.
Cara menghindarinya antara lain: selalu mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setelah membuang atau menyentuh wadah sampah; menggunakan tempat sampah tertutup (hal ini penting untuk mencegah lalat, kecoak, dan tikus menyebarkan bakteri atau virus tersebut ke area dalam rumah); serta memisahkan sampah infeksius seperti masker bekas, tisu habis pakai, atau popok ke dalam kantong plastik tersendiri dan mengikatnya dengan rapat sebelum dibuang.
Berdasarkan pengamatan penulis selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir, aktivitas bersih-bersih di ruang publik dan jalanan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kesadaran kebersihan lingkungan dari sampah rumah tangga. Masyarakat justru tidak kunjung memiliki kesadaran dan bahkan semakin menjadi-jadi dalam membuang sampah sembarangan, sebab mereka merasa akan selalu ada pihak yang membersihkannya, yakni para ASN melalui kegiatan gotong royong.
Lantas, bagaimana langkah yang baik? Menurut penulis, akan jauh lebih baik jika ASN memulai dari pemberian teladan: membersihkan area kantor masing-masing yang sudah jelas asal-muasal sampahnya. Langkah ini dinilai lebih manusiawi dan relevan, sekaligus memberi contoh kepada masyarakat agar membersihkan sampah dan kotoran mereka sendiri serta tidak membuang sampah sembarangan di lingkungan rumah masing-masing maupun di ruang publik.
Dengan cara ini, risiko kesehatan dapat ditekan seminimal mungkin jika dibandingkan dengan membersihkan sampah di ruang publik dan jalanan yang asalnya tidak diketahui serta terkontaminasi oleh berbagai zat berbahaya.
Dalam realitas di ruang publik dan jalanan, tindakan membuang sampah sembarangan, merapikan sampah, hingga membersihkan sampah merupakan hal-hal yang saling bertolak belakang. Masyarakat gemar mengotori lingkungan dan tidak membuang atau merapikan sampah pada tempatnya, sementara ASN justru datang untuk membersihkannya. Ini adalah alur yang tidak mendidik dan tidak memberdayakan masyarakat itu sendiri.
Pada akhirnya, pelayanan ASN bagi masyarakat menjadi sebuah pandangan moral yang tercerabut dari fungsi pelayanan yang sesungguhnya. Muncul anggapan bahwa fungsi pelayanan ASN harus selalu terlihat dan tampak di ruang publik, padahal hakikatnya pelayanan ASN justru lebih banyak yang tidak terlihat dan tidak terpublikasikan. Sesungguhnya, para ASN tidak butuh pengakuan apalagi pujian; mereka hanya menanti reward yang terkadang bahkan tidak kunjung datang.
ASN lebih mengharapkan dapat melayani dengan ketenangan, dilindungi oleh regulasi dan aturan, memiliki risiko yang sepadan, serta mendapatkan tunjangan setimpal yang dapat dipertanggungjawabkan. Kegiatan gotong royong bersih-bersih di ruang publik dan jalanan memang baik, tetapi dengan risiko kesehatan yang tinggi serta korelasi pelayanan yang tidak koheren dengan tugas pokok, kegiatan ini justru akan menciptakan ancaman dan bahaya yang tak kasat mata bagi para ASN.

