Mengabdi dengan Seragam, Mendidik dengan Al-Qur’an: Kisah Ipda Muharam Junaidi Hadirkan Rumah Tahfiz di Toboali

Oleh: Putri Simba — Mahasiswa Unmuh Babel

Di sebuah rumah, tepatnya di Jalan Mawar, Desa Gadung, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, suara lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar hampir setiap hari. Rumah itu bukan milik seorang ustaz atau tokoh agama, melainkan kediaman Ipda Muharam Junaidi, seorang KBO Samapta Polres Bangka Selatan yang membuka pintunya sebagai tempat belajar mengaji.

Di balik seragam kepolisian yang dikenakannya setiap hari, Ipda Muharam Junaidi juga menjalani peran sebagai kepala keluarga. Bersama istri dan ketiga anaknya, ia membangun suasana rumah yang tidak hanya menjadi tempat berkumpul keluarga, tetapi juga ruang belajar bagi anak-anak di lingkungan sekitar.

Kesibukan sebagai anggota Polri tidak membuatnya melupakan kepedulian terhadap masyarakat. Di sela-sela aktivitasnya menjalankan tugas sebagai KBO Samapta Polres Bangka Selatan, ia tetap memberikan perhatian terhadap kegiatan Rumah Tahfiz Nurul Haromain yang dirintisnya. Meski fokus pengajaran dipegang oleh putranya, Ipda Muharam Junaidi selalu memberikan dukungan penuh agar kegiatan tersebut terus berjalan dan memberi manfaat luas.

Saat diwawancarai oleh penulis pada Minggu (5/7/2026), Ipda Muharam Junaidi mengungkapkan bahwa perjalanannya sebagai anggota Polri dimulai pada tahun 1995 saat pertama kali bertugas di Polres Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan. Setelah mengabdi selama bertahun-tahun, pada tahun 2009 ia dipindahtugaskan ke Polda Bangka Belitung dan kini bertugas di Polres Bangka Selatan.

Menurut Ipda Muharam Junaidi, keinginannya menjadi anggota Polri berawal dari keyakinan bahwa polisi memiliki tugas yang mulia, yakni melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat. “Saya memilih menjadi anggota Polri karena saya melihat tugas polisi adalah tugas yang mulia, dan nilai yang saya pegang sejak dahulu ialah kejujuran serta kepercayaan,” ujarnya.

Selama bertugas, banyak pengalaman telah ia lalui. Salah satu yang paling berkesan di hatinya adalah ketika menjalankan Operasi Sadar Rencong II dan Cinta Meunasah di Aceh pada tahun 2000. Dari pengabdiannya tersebut, ia menerima penghargaan Bintang Bhayangkara Satyalancana Raksaka Dharma/Operasi Militer.

Namun, bagi Muharam Junaidi, pengabdian tidak berhenti di balik seragam. Pada 1 Juli 2024, ia mendirikan Rumah Tahfiz di rumah pribadinya. Ide itu muncul karena ia ingin mengamalkan ilmu agama yang dimiliki putranya, alumni Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro, Karas, Magetan, Jawa Timur.

Menurutnya, ilmu yang dimiliki akan lebih bernilai apabila dibagikan kepada orang lain dan membawa manfaat bagi masyarakat. Rumah Tahfiz itu bukan sekadar tempat anak-anak membaca Al-Qur’an, tetapi juga diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap Al-Qur’an sejak usia dini. Baginya, Al-Qur’an merupakan harta yang paling berharga bagi setiap muslim karena menjadi bekal kehidupan sekaligus amal jariyah yang terus mengalir bagi orang tua.

“Harapan saya supaya mereka senang dan cinta terhadap Al-Qur’an. Karena inilah harta yang sangat berharga ketika kita selaku orang tua sudah meninggal dunia. Semoga sejak kecil mereka dikenalkan kepada Al-Qur’an sehingga tumbuh menjadi generasi yang berakhlak baik dan selalu menjadikannya sebagai pedoman hidup,” ungkapnya.

Baginya, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar selain melihat anak-anak tumbuh dengan akhlak yang baik serta dekat dengan ajaran agama. Ia berharap Rumah Tahfiz yang dirintisnya menjadi tempat lahirnya generasi Qurani yang mampu membawa nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat.

Karena belum memiliki gedung khusus, rumah pribadinya menjadi pilihan untuk memulai kegiatan mengaji bagi anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Pada awal berdirinya Rumah Tahfiz tersebut, Ipda Muharam mengaku masih ikut mengajar. Namun seiring berjalannya waktu, tugas tersebut dipercayakan kepada putranya, sementara ia menyediakan tempat dan memfasilitasi agar kegiatan belajar dapat terus berlangsung secara konsisten.

“Sewaktu awal-awal buka, iya, saya ada ikut mengajar mengaji. Tetapi sekarang ini bukan saya yang mengajar, melainkan putra saya. Alhamdulillah, putra saya ini merupakan alumni pondok pesantren,” jelasnya.

Keinginan mendirikan Rumah Tahfiz itu juga berangkat dari keprihatinannya terhadap kondisi generasi muda saat ini. Menurut pengamatannya, perkembangan zaman membuat sebagian anak mulai jauh dari nilai-nilai agama. Karena itu, ia merasa perlu menghadirkan tempat yang dapat menjadi ruang belajar sekaligus membentuk karakter anak-anak melalui pendidikan Al-Qur’an.

“Kalau saya lihat secara pribadi, sebagian anak-anak saat ini mulai jauh dari agama. Karena itu saya ingin mereka dikenalkan kepada Al-Qur’an sejak dini agar tumbuh menjadi generasi yang berakhlak baik dan memiliki pegangan hidup,” katanya.

Perjalanan membangun Rumah Tahfiz tentu tidak selalu berjalan mulus. Keterbatasan tempat menjadi tantangan yang masih dihadapi hingga saat ini seiring bertambahnya jumlah santri yang datang. Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak pernah menyurutkan semangat Ipda Muharam Junaidi beserta keluarganya untuk terus berbagi ilmu.

Perlahan, usaha yang dimulai dari rumah sederhana itu mulai menunjukkan hasil. Anak-anak yang sebelumnya belum mampu membaca Al-Qur’an kini mengalami perkembangan yang membanggakan. Bahkan, beberapa di antaranya telah menghafal Juz 30.

“Alhamdulillah, ada beberapa anak yang awalnya tidak bisa membaca Al-Qur’an, sekarang sudah hafal Al-Qur’an Juz 30,” katanya penuh syukur.

Bagi Ipda Muharam, keberhasilan tersebut menjadi kebahagiaan yang tidak dapat diukur dengan materi. Melihat anak-anak semakin dekat dengan Al-Qur’an membuatnya yakin bahwa langkah kecil yang dimulai dari rumah sederhana mampu memberikan manfaat besar bagi masa depan generasi muda. Ia juga meyakini bahwa kegiatan tersebut menjadi salah satu cara membangun hubungan yang baik antara Polri dan masyarakat.

“Hubungan antara tugas sebagai anggota Polri dan membuka Rumah Tahfiz adalah terciptanya kepercayaan masyarakat kepada Polri,” tuturnya.

Ia percaya bahwa membangun kepercayaan masyarakat tidak selalu dilakukan melalui tugas penegakan hukum di lapangan. Pendekatan keagamaan juga menjadi salah satu cara untuk mendekatkan diri dengan masyarakat dan menumbuhkan rasa saling percaya.

Harapannya sederhana, yaitu melihat semakin banyak anak-anak di Toboali mencintai Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman hidup. “Semoga anak-anak kita, khususnya di Toboali, bisa cinta dan senang membaca Al-Qur’an serta terus lahir generasi muda yang mengamalkan isi kandungannya dan menjadikannya tuntunan hidup,” harapnya.

Kehadiran Rumah Tahfiz yang dirintis Ipda Muharam mendapatkan sambutan positif dari warga sekitar. Salah satunya datang dari Kepala Kemenag Bangka Selatan, Bapak Karya, yang juga merupakan tetangga dekatnya.

Saat diwawancarai pada Selasa (7/7/2026), Bapak Karya mengungkapkan bahwa Muharam dikenal sebagai pribadi yang ramah, mudah bertegur sapa, rajin beribadah, serta suka menolong. Sikap itulah yang membuatnya diterima dengan baik di tengah masyarakat.

“Beliau sangat baik, ramah, rajin beribadah, suka membantu, dan selalu menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Ia mengaku mendukung penuh keberadaan Rumah Tahfiz tersebut karena memberikan manfaat nyata bagi anak-anak lingkungan sekitar. “Saya sangat mendukung karena ini memberikan pendidikan Al-Qur’an kepada anak-anak. Saya tidak melihatnya dari profesi beliau sebagai polisi, tetapi dari manfaat yang diberikan kepada masyarakat,” katanya.

Kepala Kemenag Basel juga menilai kegiatan mengaji yang dilaksanakan di luar jam dinas tersebut tidak mengganggu tugas Ipda Muharam sebagai anggota Polri. Ia berharap Rumah Tahfiz tersebut ke depannya dapat terdata secara resmi di Kementerian Agama sehingga memperoleh proses pembinaan dan pengakuan sebagai lembaga pendidikan Al-Qur’an.

Menutup pesannya di akhir wawancara, Ipda Muharam Junaidi menitipkan pesan kepada rekan-rekan sesama anggota Polri agar selalu menjaga amanah dan menjadi teladan di tengah masyarakat.

“Bekerjalah menjadi teladan dengan tidak meninggalkan kewajiban kita sebagai hamba Allah SWT. Jadilah pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat yang amanah serta jujur. Semoga Polisi semakin dicintai dan diterima di masyarakat,” pungkasnya.

Kegiatan Rumah Tahfiz yang dirintis Ipda Muharam Junaidi menjadi gambaran bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai cara. Di balik tugasnya sebagai anggota Polri, ia tetap menyempatkan diri mendukung kegiatan keagamaan yang membawa manfaat bagi lingkungan. Dari rumah sederhana di Desa Gadung, semangat berbagi ilmu terus tumbuh melalui lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dipelajari anak-anak setiap hari. Langkah kecil yang dimulainya tidak hanya menghadirkan tempat belajar mengaji, tetapi juga menjadi jembatan yang mempererat hubungan antara Polri dan masyarakat melalui kepedulian serta keteladanan.