Adab Sebelum Ilmu: Nasihat Seorang Ayah
Oleh: Dedi Melyanhadi, S.Sos, M.M, C. LFS, C. HRA, C. LA.ALC — Alumni Magister Manajemen FE UBB
Suasana hari itu terasa berbeda. Tiupan angin sepoi mendesis, tak terdengar suara gemuruh seperti biasanya. Yang ramai kini terasa sepi dan sunyi di balik kamar tidur anakku.
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa sudah 18 tahun usiamu, Nak. Kini kau sudah beranjak remaja menuju dewasa, belajar untuk mengerti tujuan hidupmu di masa depan yang penuh perjuangan dalam melangkah meraih apa yang kau cita-citakan.
Kini kau baru mulai melangkah, Nak. Perjuanganmu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di bidang kesehatan adalah hal yang kau cita-citakan. Suatu saat nanti, di mana pun kau dibutuhkan, baktikan dan terapkanlah ilmu itu di masyarakat untuk membantu sesama yang membutuhkan, baik melalui tenaga, pikiran, pengetahuan, maupun hati nuranimu.
Belajarlah dengan semangat, disiplin, dan tepat waktu. Jangan pernah kau melepaskan adab, adat, dan agama di mana pun berada. Pegang erat hal itu sebagai dasar akidah seorang hamba Allah makhluk paling mulia dari ciptaan-Nya yang dikaruniai kelebihan akal pikiran, budi pekerti, dan rasa kemanusiaan.
Seperti pepatah lama: Adab dulu baru ilmu. Orang yang beradab sudah pasti berilmu, tetapi orang berilmu belum tentu beradab. Sebab, ilmu tanpa adab bisa membuat seseorang buta hati hingga timbul kesombongan dan lupa diri sebagai hamba Allah. Padahal, kesombongan hanyalah milik Allah, Sang Pencipta langit, bumi, beserta isinya, termasuk ilmu pengetahuan.

