TIMELINES.ID – Persalinan melalui operasi caesar semakin banyak dilakukan di berbagai negara, baik karena alasan medis maupun pertimbangan lainnya. Operasi caesar dapat menyelamatkan ibu dan bayi pada kondisi tertentu. Namun, seperti operasi lainnya, tindakan ini juga memiliki risiko jangka pendek maupun jangka panjang. Salah satunya adalah terbentuknya perlengketan atau adhesi, yaitu jaringan parut yang dapat membuat organ di dalam perut atau panggul saling menempel.

Peningkatan angka operasi caesar juga terlihat secara global. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang diterbitkan pada 2021, operasi caesar mencakup sekitar 21% dari seluruh persalinan di dunia dan diproyeksikan mencapai sekitar 29% pada 2030 bila tren saat itu berlanjut. WHO juga menjelaskan bahwa operasi caesar memiliki risiko jangka pendek maupun jangka panjang, yang dalam beberapa keadaan dapat berpengaruh pada kehamilan berikutnya.

Ketika seorang perempuan dengan riwayat caesar kemudian membutuhkan operasi di area perut atau panggul, misalnya untuk menangani miom, endometriosis, atau kondisi tertentu pada ovarium, perlengketan dari operasi sebelumnya dapat membuat tindakan menjadi lebih menantang. Kondisi seperti ini membuat banyak pasien mulai mencari penanganan dokter obgyn terbaik di jakarta untuk kasus perlengketan yang mampu menilai risiko sejak awal dan menawarkan pilihan teknik operasi yang sesuai.

Salah satu nama yang kerap dikaitkan dengan pendekatan ini adalah dokter kandungan pelopor bedah robotik di Jakarta, yang aktif mengedukasi pasien bahwa riwayat operasi sebelumnya tidak selalu berarti pasien harus kembali menjalani operasi dengan sayatan besar.

Baca Juga : Hidup Sehat, Kunci Menuju Kehidupan yang Berkualitas

Apa Itu Perlengketan Pascaoperasi?

Perlengketan atau adhesi adalah jaringan parut yang dapat terbentuk setelah operasi atau peradangan. Jaringan ini dapat membuat organ di dalam perut atau panggul saling menempel, misalnya kandung kemih dengan rahim atau usus dengan dinding perut.

Tidak semua perlengketan menimbulkan gejala atau memerlukan pengobatan. Namun, pada sebagian orang, perlengketan dapat menyebabkan masalah seperti sumbatan usus atau membuat operasi berikutnya lebih sulit. Dalam kondisi tertentu, perlengketan juga dapat berkaitan dengan nyeri panggul atau gangguan kesuburan, meskipun hubungan tersebut tidak selalu dapat dipastikan.

  • Nyeri panggul yang berulang atau menetap
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman saat berhubungan intim pada sebagian kasus
  • Gangguan kesuburan pada kondisi tertentu
  • Tingkat kesulitan yang lebih tinggi saat operasi perut atau panggul berikutnya

Mengapa Operasi Ulang Menjadi Lebih Menantang?

Pada pasien yang pernah menjalani operasi caesar, perlengketan dapat membuat organ seperti kandung kemih atau usus menempel pada jaringan di sekitarnya. Jika pasien membutuhkan operasi berikutnya di area perut atau panggul, dokter perlu memisahkan jaringan tersebut dengan hati-hati untuk mengurangi risiko cedera pada organ. Perlengketan dapat mengubah anatomi normal dan membuat batas antara jaringan menjadi lebih sulit dikenali, sehingga operasi dapat menjadi lebih kompleks dan memerlukan diseksi yang hati-hati.

Menurut artikel keunggulan bedah robotik dari dr. Sita Ayu Arumi, sistem bedah robotik membantu dokter mengendalikan instrumen melalui beberapa sayatan kecil dan melakukan gerakan yang terkontrol selama operasi. Kamera tiga dimensi dengan pembesaran gambar membantu dokter melihat area operasi secara lebih jelas. Fitur ini dapat membantu saat dokter memisahkan jaringan yang mengalami perlengketan.

Posisi Bedah Robotik dalam Kasus Perlengketan

Bedah robotik bukan satu-satunya pilihan dan tidak selalu menjadi pilihan yang paling sesuai untuk setiap pasien. Laparoskopi konvensional maupun operasi terbuka tetap memiliki tempat masing-masing. Pada operasi ulang yang kompleks, termasuk kasus dengan perlengketan, bedah robotik dapat dipertimbangkan pada pasien tertentu. Namun, kelayakannya bergantung pada lokasi dan luas perlengketan, jenis operasi yang dibutuhkan, serta pengalaman dokter bedah.

  • Instrumen robotik dapat bergerak dengan lebih fleksibel sehingga membantu dokter melakukan tindakan di area yang sulit dijangkau.
  • Sistem dapat membantu menyaring atau mengurangi gerakan tangan yang tidak diinginkan sehingga pergerakan instrumen menjadi lebih terkontrol.
  • Kamera tiga dimensi dengan pembesaran membantu dokter melihat area operasi dengan lebih jelas.
  • Bedah robotik merupakan salah satu teknik operasi minimal invasif yang menggunakan sayatan kecil. Pada prosedur tertentu, pendekatan ini dapat membantu mengurangi nyeri setelah operasi dan mempercepat pemulihan dibandingkan operasi terbuka. Namun, hasilnya dapat berbeda bergantung pada jenis operasi dan kondisi pasien.

Sebuah tinjauan ilmiah tahun 2026 menyebutkan menyebutkan bahwa bedah robotik berpotensi mengurangi kebutuhan untuk mengubah operasi minimal invasif menjadi operasi terbuka pada kasus operasi ulang tertentu yang melibatkan perlengketan. Namun, bukti mengenai manfaat bedah robotik khusus untuk menangani perlengketan masih terbatas dan belum dapat diterapkan pada semua jenis operasi.

Meski begitu, keputusan akhir tetap bergantung pada hasil pemeriksaan, tingkat keparahan perlengketan, jenis penyakit yang ditangani, serta kondisi kesehatan pasien secara umum.