NASIONAL, TIMELINES.ID — Hari Pendidikan Nasional 2 Mei juga hari lahir Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara.

Ia berasal dari keluarga bangsawan, berpendidikan pesantren dan sekolah setara Eropa, sempat sekolah kedokteran, jadi wartawan, pendiri partai politik nasionalisme pertama, pejuang pendidikan, kebudayaan, dan kemerdekaan.

Ki Hadjar bernama aslinya Soewardi Soerjaningrat. Dia adalah bangsawan, aristokrat, jalurnya jalur Putra Mahkota, bangsawan kelas atas, seperti dilansir di https://gtk.kemdikbud.go.id/read-news/mengenal-sosok-ki-hadjar-dewantara.

Ki Hadjar juga cerdas berliterasi dan terlacak dari kariernya sebagai wartawan.

Begitu keluar dari STOVIA, Ki Hadjar menjadi wartawan, jurnalis yang sangat aktif sebagai jurnalis.

Semangat setara diperlihatkan dari pilihan untuk mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara.

Baca Juga  Menangani Masalah Siswa dengan Segitiga Restitusi, Efektifkah?

Ia memilih mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara, supaya setara. Semangat egaliter sangat kuat di pejuang pendidikan.

Ki Hadjar pun pernah mengenyam pengalaman sebagai santri selama beberapa tahun sebagai bagian dari dimensi “akar” pendidikan beliau.

Ki Hadjar Dewantara pernah nyantri dengan kiai Sulaiman Zainuddin di kawasan Kalasan, Prambanan, Yogyakarta. Belajar ngaji sampai tuntas di pesantrennya kiai Sulaiman Zainuddin.

Ki Hadjar juga menempuh pendidikan di ELS (Eropeesche Legere School). ELS merupakan sekolah dasar untuk anak-anak Eropa dan bangsawan yang ada di Indonesia. Ia bisa masuk ke sekolah ini karena dia adalah anak bangsawan.

Ia lahir di dalam sebuah keluarga keraton, dari pasangan Gusti Pangeran Harya Surjaningrat dan cucu dari Pakualaman III.

Baca Juga  Gaya Hidup Pamer Kemewahan Oknum DJP Lukai Rasa Keadilan Masyarakat

Ki Hadjar juga menempuh pendidikan yang ala Eropa ketika waktu sekolah dasar. Ia menempuh pendidikan di ELS, SD yang memang dilakukan di Hindia Belanda, tapi kualitasnya setara dengan yang ada di Eropa. Ki Hadjar SD-nya selama 7 tahun.

Setelah lulus dari ELS, Ki Hadjar kemudian melanjutkan pendidikannya di STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) yaitu sekolah yang dibuat untuk pendidikan dokter pribumi di kota Batavia.

Sesudah dari ELS, beliau masuk sekolah STOVIA. Berarti Ki Hadjar calon dokter lho. Beliau belajar pengin jadi dokter. Dia tidak tamat di STOVIA, karena ada beberapa versi.

Ada yang dia bilang diberitakan Ki Hadjar itu sakit, sehingga tidak bisa menempuh pendidikan. Ada juga yang bilang Ki Hadjar ini bandel, karena sering protes sama sekolah di STOVIA, sehingga kemudian dia dikeluarkan. Intinya dia tidak selesai di STOVIA-nya.

Baca Juga  Meninggikan Derajat Anak: Refleksi Hari Anak Nasional