KESEHATAN,TIMELINES.ID- Anak obesitas lebih rentan mengalami radang sendi dan patah tulang dibandingkan anak dengan berat ideal. Hal ini karena kelebihan berat badan akan menyebabkan adanya tekanan berlebih pada persendian dan tulang. Tak hanya berdampak pada kesehatan fisik, kesehatan psikis anak juga bisa ikut terpengaruh akibat obesitas.

Obesitas diakibatkan oleh pola makan dan gaya hidup anak yang serupa dengan orangtuanya. Kebiasaan Makan : Sering mengonsumsi makanan siap saji dan olahan. Makanan siap saji dan olahan cenderung tinggi lemak dan gula namun rendah serat. Makanan berlemak dan bergula mempunyai kepadatan energi yang tinggi.

Penyebab dan faktor risiko obesitas pada anak

Gaya hidup seperti asupan kalori anak yang melebihi Angka Kecukupan Gizi dan malas bergerak adalah penyebab utama obesitas pada si kecil.

Akan tetapi, beberapa faktor berikut ini turut meningkatkan risiko kenaikan berat badan.

1. Pola makan yang buruk

Konsumsi makanan tinggi kalori, seperti makanan cepat saji, minuman manis, atau makanan kemasan dapat menyebabkan kenaikan berat badan pada anak.

Baca Juga  3 Tips Aman Jalani Puasa saat Hamil Muda

Pasalnya, jenis makanan dan minuman ini cenderung tinggi gula.

2. Kurang gerak

Anak yang jarang bergerak lebih mungkin mengalami kenaikan berat badan karena mereka tidak membakar banyak kalori.

Si kecil mungkin lebih memilih menghabiskan waktunya untuk nonton televisi atau bermain game.

3. Genetika

Anak yang memiliki anggota keluarga dengan kondisi obesitas, lebih mungkin mengembangkannya di kemudian hari.

Risiko obesitas akan semakin bertambah besar jika memang gaya hidup anak juga tidak sehat. Jadi, anak lebih mungkin mengalami kenaikan berat badan.

4. Faktor psikologi

Stres pribadi, orang tua, dan keluarga dapat meningkatkan risiko obesitas pada anak.

Beberapa anak makan berlebihan untuk mengatasi masalah atau untuk mengatasi emosi, seperti stres atau untuk melawan kebosanan.

Baca Juga  DKPPKB Catat 1.184 Warga Bangka Selatan Alami Obesitas

5. Faktor sosial ekonomi

Anak-anak dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah lebih mungkin mengonsumsi makanan tidak sehat, contohnya makanan siap saji.

Orangtua mereka cenderung sibuk bekerja memenuhi kebutuhan ekonomi, sehingga tidak punya cukup waktu untuk menyiapkan makanan bergizi seimbang.

Kesibukan orangtua juga bisa membuat asupan kalori anak tidak diawasi dengan baik.

6. Penggunaan obat tertentu

Beberapa obat resep dapat meningkatkan risiko mengembangkan obesitas.

Obat-obatan tersebut termasuk prednison, lithium, amitriptyline, paroxetine (Paxil), gabapentin (Neurontin, Gralise, Horizant) dan propranolol (Inderal, Hemangeol).

Hal ini bisa saja terjadi pada anak jika ia memang memiliki masalah kesehatan tertentu yang mengharuskan konsumsi obat-obatan.

Bahaya obesitas pada anak

Pola asupan yang memenuhi kebutuhan zat gizi harian, tapi tidak diimbangi dengan kegiatan fisik, bisa menyebabkan obesitas.

Jika dibiarkan, obesitas pada anak bisa memengaruhi pertumbuhan anak-anak dan remaja, bahkan menyebabkan komplikasi serius.

Baca Juga  Rekomendasi Obat Jerawat Alami, Gampang dan Ampuh

1. Komplikasi kesehatan

Pada umumnya komplikasi akibat obesitas pada anak erat kaitannya dengan perkembangan penyakit degeneratif sebagai berikut.

Gejala pradiabetes

Kondisi ini menyebabkan tubuh anak tidak dapat mencerna glukosa secara optimal dan meningkatkan kadar glukosa di dalam darah.

Jika kondisi ini terus berlangsung maka pada saat usia remaja, anak tersebut dapat menderita diabetes mellitus di usia dewasa nantinya.

Sindrom metabolik

Sindrom metabolik merupakan kumpulan gejala perkembangan penyakit degeneratif.

Sebagai contoh, tingginya tekanan darah, tingginya kadar kolesterol “jahat” atau LDL (low density lipoprotein) dan rendahnya kolesterol “baik” atau HDL (high density lipoprotein), serta penumpukan lemak di sekitar perut anak.

Gejala asma

Obesitas dapat menyebabkan inflamasi pada sistem kardiovaskular di mana jaringan lemak di sekitar pembuluh darah paru-paru.