Oleh: Meilanto

Kehidupan masyarakat Melayu Bangka sangat kental dengan nuansa kegotongroyongan.

Kegiatan gotong royong dilakukan dalam berbagai aktivitas seperti membuat rumah, membersihkan tempat pemandian, kuburan, jalan dan lain sebagainya baik untuk kepentingan umum maupun untuk kepentingan pribadi seperti sedekah, hajatan pernikahan, membuka lahan ladang dan lain sebagainya.

Tak pernah terlintas dibenak warga saat ada salah satu warga meminta bantuan dibayar dengan uang atau barter dengan benda lain. Semua dilakukan dengan sukarela. Kalaupun ada makanan atau minuman yang disuguhkan, hal itu suatu keberkahan dan sumbangan warga.

Kehidupan masyarakat yang sebelumnya hidup di pondok-pondok kebun yang dipisahkan oleh ladang ume dengan pola berkelompok, pasca perang Bangka 1848-1851, penduduk dipindahkan oleh Belanda ke kiri kanan jalan raya yang dbuat oleh pemerintah Hindia Belanda.

Baca Juga  Rimbak, Lebak, Rebak, Kubak, Bebak, Kelekak (Bagian I)

Berangsur-angsur, warga pun mendirikan rumah di kiri kanan jalan raya.
Kehidupan warga sangat akrab, bertetangga kiri kanan dengan lahan rumah yang dibatasi dengan perenggan.

Pintu rumah warga minimal dua buah yang menghubungan bagian luar dengan bagian dalam rumah. Pintu depan pada umumnya untuk menyambut sanak keluarga, tamu atau siapapun yang berkunjung.

Sementara itu pintu belakang biasanya terletak di sisi kiri atau kanan atau bahkan belakang. Pintu belakang mempunyai arti penting bagi masyarakat.
Masyarakat lazimnya membersihkan rumah dengan menyapu lantai pada pagi dan sore. Waktu luang digunakan untuk membersihkan lingkungan.

Kegiatan ini bertujuan sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu yang datang sewaktu-waktu, disampingkan juga untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Baca Juga  Rusip Khas Bangka Belitung: Cita Rasa Tradisional yang Melekat di Setiap Hidangan

Lazimnya masyarakat akan menghormati tamu yang datang maka tuan rumah akan menghidangkan air minum, apakah itu teh atau kopi atau air putih saja.