Oleh: Marwan

Implementasi nilai-nilai intelektual kader sebuah organisasi yang independen dihadapkan dengan kekuatan mempertahankan independensinya jelang pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) tahun 2024.

Gencarnya berbagai isu dalam proses dinamika di Pilkada 2024 yang akan dilaksanakan pada Rabu, 27 November 2024 menjadi celah goyangnya independensi sebuah organisasi. Kepentingan-kepentingan politik banyak yang menjerumuskan organisasi sebagai alat mencapai tujuan politik.

Tentunya organisasi kepemudaan menjadi target politik untuk menjadi kendaraan dalam memainkan berbagai isu yang disertai dengan imingan, karena tidak semua organisasi yang mampu membendung masuknya kepentingan-kepentingan tersebut. Ketika terbawanya organisasi dalam kepentingan politik tentunya akan merusak nilai-nilai Intelektual kader dalam sebuah organisasi.

Baca Juga  Fantastis! Pemkab Bangka Barat Anggarkan Rp29 Miliar untuk Pilkada 2024

Kecacatan independensi organisasi mencerminkan rusaknya intelektual para anggotanya, terutama pimpinan organisasi yang dianggap tidak mampu menjaga organisasi untuk berjalan dalam koridor tujuan konstitusionalnya.

Dalam sebuah organisasi, independensi bukan hanya terletak pada tindakan yang tidak mengibarkan bendera untuk kepentingan politik, melainkan bagaimana tidak melibatkan kader yang dalam dirinya melekat status sebagai kader sebuah organisasi. Maka independensinya sebuah organisasi, salah satunya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) terdapat 2 paradigma terhadap independensi HMI yang dikenal dengan Independensi organisatoris dan independensi etis.

“Independensi Organisatoris” ditafsirkan dalam bentuk perjuangan yang teraktualisasi secara organisasi. Dalam artian bahwa dalam menjalankan setiap aktivitas atau perjuangannya sebuah organisasi tidak dikendarai orang lain dan merdeka/bebas dari berbagai pengaruh eksternal organisasi tersebut. Sehingga perjuangan yang dilakukan memang menunjukkan kemurnian perjuangan yang berlandaskan pada visi utama sebuah organisasi. Kemudian “Independensi Etis” tentunya tercerminkan dalam diri pribadi kadernya.

Baca Juga  Strategi Menjaga Kesehatan Mental Mahasiswa di Tengah Tekanan Akademik dan Sosial

Seorang kader organisasi ditekankan pada kewajiban dalam menjaga nama baik organisasi. Sehingga setiap perilaku dan tindakan yang dilakukan haruslah cenderung pada kebenaran (Al-Hanif). Jadi sangat penting bagi seorang kader organisasi untuk menjaga sebuah independensinya dalam konteks perjuangan secara organisatoris serta perjuangan individualis yang dalam dirinya melekat nama baik sebuah organisasi. Maka penting bagi pemimpin sebuah organisasi untuk memilah serta memilih tindakan yang mengarah kepada sebuah kepentingan.