Karya: Yoel Chaidir

Di balut gelapnya mendung dan sambutan kilat serta petir seolah menandakan alam tidak berpihak akan kehadiran mereka.

Bergegas Aidil mengambil batu batu lalu diselipkan di kantong nya.

Ia melempar batu kecil itu ke arah bebatuan di pinggir Pulau Kelasa.

Lama dia termangu membayangkan mimpi siang itu.

Aidil lalu mengajak sabahatnya untuk segera pergi meninggalkankan pulau.

Perahu tempel mereka akhirnya menghilang dari kawasan itu.

Tanpa membuahkan hasil apa pun sebagai target, meski persiapan cukup matang untuk mengambil sarang walet yang berada di dalam Goa Pulau Kelasa.

Dalam perjalanan pulang di tengah terjangan ombak laut Aidil menceritakan mimpi yang baru saja ia alami.

Baca Juga  Mahkota Darah di Atas Tanah Retak

“Tahu nggak siapa penunggu goa tadi?” tanya Aidil kepada Adi.

“Kan kita sudah jelas melihat dengan mata kepala kita masing masing,” jawab Adi yang terbelalak melihat apa yang sebelum nya belum pernah ia saksikan.

“Ya betul tapi tadi dalam mimpi, ada ular besar yang ada di dalam goa berubah wujud menjadi seorang perempuan setengah tua dengan wajah yang buruk meminta Aku untuk mengembalikan beberapa batu yang aku selipkan di kantong. Kika tidak dikembalikan maka perempuan itu akan membalik kan perahu kita,” sambung Aidil.

Memang benar dengan menggunakan sorotan lampu senter yang mereka bawa, Aidil dan Adi jelas melihat seekor ular seukuran pohon kelapa dengan badan melingkar.

Baca Juga  Pengilen