Oleh: Yudha Adinata, S.AP

Ramadan kembali menyapa. Hadirnya bukan tentang jalan dunia yang memesona. Bukan pula tentang gemerlapnya dunia yang melenakan. Tapi sapaannya untuk menyepikan sejenak urusan dunia. Sapaan ini tentu ditanggapi dengan beragam.

Ada yang menyambut sukacita. Menyiapkan diri dari jauh-jauh hari. Baik secara fisik maupun mental. Bahkan ada yang menyiapkan bekal materi. Bersedekah lebih banyak. Dasarnya tentu saja kabar gembira dari Rasulullah Saw.

“Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, diwajibkan kepada kalian ibadah puasa, dibukakan pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka serta setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan kebaikannya berarti ia telah benar-benar terhalang atau terjauhkan (dari kebaikan).” (HR. Imam Ahmad).

Baca Juga  Membaca Ulang Kisah Nabi Yusuf (Bagian 2)

Namun tak sedikit pula yang merasa tersiksa dengan datangnya Ramadan. Merasa terkungkung.  Begitu banyak hal yang harus dikorbankan. Bersusah payah harus menahan lapar, dahaga dan nafsu jimak di siang hari. Bukan sekadar satu atau dua jam.

Tapi belasan jam. Di negeri tropis lintasan khatulistiwa seperti di Indonesia atau negara Asia Tenggara lainnya, normal dalam kisaran 13,5 jam. Namun di belahan bumi utara ada yang sampai      16 atau 17 jam.  Rasa ketersiksaan itu kian menjadi-jadi ketika nikmatnya tidur terganggu karena harus bangun untuk makan sahur.

Ada pula yang menanggapi dengan biasa-biasa saja. Menganggap sama dengan bulan-bulan yang lain. Tak peduli dengan tawaran kemuliaan selama Ramadan.

Baca Juga  Mancing di Ramadan: Ibadah Lancar, Hobi Tetap Jalan