Oleh: Weni Lestari, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Pertambangan timah telah lama menjadi urat nadi perekonomian Bangka Belitung. Namun di balik sumbangsihnya terhadap pendapatan daerah dan lapangan kerja, aktivitas ini juga menyimpan potensi konflik yang tak bisa lagi diabaikan. Salah satu wilayah yang kini menjadi sorotan adalah Batuberiga, tempat di mana tambang rakyat berbenturan dengan kehidupan nelayan, petani, dan pelaku pariwisata.

Benturan ini bukan terjadi tanpa sebab. Di lapangan, terlihat jelas tumpang tindih antara wilayah tambang dengan area tangkap nelayan serta kawasan pertanian produktif. Beberapa tambang bahkan sudah memasuki daerah pantai, kebun warga, dan kawasan yang sebelumnya dimanfaatkan untuk pengembangan wisata.

Baca Juga  Mahasiswa KKN Unmuh Babel Bersama Forum Anak dan Pokdarwis Bersih-Bersih Pantai Pongok

Akibatnya, ketegangan sosial pun muncul. Bukan hanya antara masyarakat dan perusahaan, tapi juga antar kelompok masyarakat itu sendiri.

Sebagai mahasiswa yang tumbuh di tengah realitas ini, saya melihat bahwa konflik ini ibarat bom waktu. Jika tidak segera diatasi, ia bisa berkembang menjadi krisis sosial yang lebih luas. Kita tentu tidak ingin potensi alam kita menjadi sumber perpecahan antarsesama warga Bangka Belitung.

Konflik ini bukan hanya soal ekonomi atau legalitas lahan, tapi juga menyangkut rasa keadilan dan keberlanjutan hidup. Nelayan merasa wilayah tangkapnya menyempit, petani kehilangan lahan subur, dan pelaku wisata kehilangan daya tarik alam yang selama ini mereka bangun dengan jerih payah.

Baca Juga  Semarak Pawai di Toboali, Berkah bagi Pelaku UMKM

Di sisi lain, masyarakat tambang merasa bahwa aktivitas mereka adalah satu-satunya cara bertahan hidup di tengah keterbatasan lapangan kerja.

Di sinilah peran mahasiswa menjadi penting. Kami tidak memihak salah satu kelompok, tapi justru hadir sebagai penghubung dan pencari solusi.

Dengan pendekatan ilmiah dan kepekaan sosial, kami ingin mendorong lahirnya kebijakan yang berpihak pada keadilan bersama, bukan keuntungan segelintir pihak saja.

Pertanyaan utamanya adalah: bagaimana agar timah tetap menjadi berkah tanpa harus mengorbankan nelayan, petani, atau sektor lain yang juga menopang kehidupan masyarakat? Jawabannya harus dimulai dengan solusi yang menyeluruh, adil, dan disepakati bersama.