Oleh: Andrean Marsyah — Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Di era digital yang kini telah menjadi era visual, fotografi dapat diibaratkan sebagai bahasa visual yang dapat menyampaikan pesan. Namun di lingkungan kampus belum begitu banyak mahasiswa yang menggunakan fotografi sebagai media ekspresi.

Padahal keterampilan mengekspresikan ide atau emosi dengan gambar dapat cukup berguna, apalagi di zaman dimana visual adalah media sosial yang dominan.

Fotografi bukan hanya hobi atau aktivitas estetika; Ini adalah bahasa yang dapat mendobrak batas-batas kata. Melalui fotografi, siswa dapat mengartikulasikan pandangan mereka tentang masalah sosial, budaya, dan lingkungan.

Namun, kurangnya perhatian terhadap pengembangan keterampilan ini di kampus menunjukkan perlunya upaya lebih banyak untuk menanamkan fotografi dalam kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler.

Baca Juga  Buku ‘Pembulak’: Kritik Sosial-Politik dalam Kemasan Sastra

Menghidupkan kembali semangat fotografi di kalangan siswa bukan hanya tentang menciptakan gambar yang indah, tetapi juga tentang membentuk pemikiran kritis dan kreatif.

Dengan mendorong siswa untuk menjelajahi dunia melalui lensa, kami memungkinkan mereka untuk memahami dan menafsirkan realitas dengan cara yang lrbih dalam dan pribadi.

Namun, tak banyak Lembaga kursus atau pelatihan professional fotografi yang menyediakan program fotografi untuk pemula di tingkat universitas.

Ihwal ini disebabkan oleh adanya kekhawatiran mengenai aspek pendanaan dan minimnya minat mahasiswa pada fotografi. Sehingga kemungkinan besar, perguruan tinggi tidak dapat membantu untuk berkembang secara optimal.