Oleh: Pak Mo – Penulis yang Tinggal di Sungailiat, Kabupaten Bangka

Seolah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan antara satu sisi dengan sisi yang lainnya. Karena jika satu sisi yang hilang maka bisa jadi uang tersebut kehilangan nilainnya alias tidak bisa lagi dijadikan sebagai alat pembayaran yang sah alias tidak berlaku lagi. Begitulah eksistensi sebuah mata uang yang menjadi satu kesatuan walau dalam dua sisi yang berbeda.

Dalam jajaran birokrasi dua kata “Integritas” dan “Loyalitas” ini kerap dan akrab sekali di telinga bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN).

Dan yang paling sangat kental sering melekat dalam hubungan antara pimpinan dan bawahan baik di dalam jajaran pemerintahan maupun di dalam sebuah perusahaan. Yang paling pas loyalitas dan integritas selalu hadir di dalam sebuah organisasi apapun itu bentuknya.

Baca Juga  Berapa Jumlah Guru yang Masih Tersisa

Sebagaimana defenisi organisasi secara umum adalah kumpulan dua orang atau lebih yang bekerja secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan atau disepakati.

Tentulah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan tersebut dibutuhkan integritas dan loyalitas satu sama lain terutama antara bawahan dengan pimpinan.

Pertanyaannya,” apakah mutlak integritas dan loyalitas hanya diletakkan pada pundak bawahan saja?” Pertayaan ini tentunya memerlukan jawaban yang sangat bijak dan kearifan tingkat tinggi.

Dalam perjalanan sejarah organisasi pemerintah mulai dari pemerintah pusat, sampai kepada pemerintah daerah sering kita temui berbagai macam kasus yang muncul sehingga berakibat fatal dan pada akhirnya menjadi persoalan hukum akibat dari pengejewantahan antara integritas dan loyalitas tersebut.

Baca Juga  Kelekak Batu

Manakah yang lebih penting dan utama dalam pengambilan  sikap untuk menerima perintah  dari seorang pimpinan?

Untuk menentukan sikap mendahulukan yang mana antara integritas dan loyalitas tersebut, dalam prakteknya tidaklah semudah apa yang diucapkan.

Pertaruhan ini cukup berat. Jika seseorang lebih mengutamakan loyalitas terhadap pimpinan atau atasannya dengan pertimbangan dikarenakan jabatan yang dia duduki tersebut didapat melaui jalur yang tidak semestinya seperti hanya mengandalkan hubungan kedekatan dan  kekerabatan dengan mengenyampingkan kemampuan dan profesionalisme,  maka wajar saja loyalitas menjadi keutamaan sebagai pilihan.