Dibesarkan Kakek dan Paman, Sebuah Kolaborasi Pengasuhan
Langit Menyambutnya, Dunia Belajar darinya (Bagian 8)
Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA
Tak ada luka yang lebih sunyi daripada kehilangan orang tua di usia dini. Namun dari sunyi itulah, seringkali muncul pribadi-pribadi agung. Muhammad kecil, dalam usia yang masih belia, telah merasakan pahitnya kehilangan dua sosok yang paling ia cintai.
Ayah, bahkan sebelum ia dilahirkan. Ibunda, ketika usianya baru enam tahun. Tapi kehidupan tak membiarkannya berjalan sendiri. Ada figur-figur penuh cinta yang menyambutnya, bukan sekadar untuk merawat tubuhnya, melainkan juga membesarkan jiwanya.
Figur pertama adalah sang kakek, Abdul Muththalib. Seorang pemuka Quraisy yang disegani. Dalam berbagai riwayat sirah, diceritakan betapa istimewanya posisi Muhammad kecil di mata sang kakek.
Di tengah majelis para bangsawan Quraisy, Muhammad kecil boleh duduk di permadani milik Abdul Muththalib, sebuah hak istimewa yang tidak diberikan pada siapa pun.
Pengasuhan Abdul Muththalib adalah bentuk penguatan batin yang penting. Ia tidak sekadar menjadi pelindung fisik, tetapi juga menjadi penjaga harga diri dan rasa aman cucunya. Ia memberikan Muhammad kecil ruang untuk hadir dan bersinar di tengah masyarakat yang penuh tekanan sosial.
Namun, masa itu tak lama. Ketika Muhammad berusia delapan tahun, Abdul Muththalib wafat. Maka tanggung jawab berpindah ke Abu Thalib. Paman beliau yang tulus dan sederhana. Berbeda dengan sang kakek yang kaya dan terpandang, Abu Thalib hidup dalam kesederhanaan.
Namun yang luar biasa, kasih sayangnya kepada Muhammad SAW tak kalah besar. Abu Thalib merawat, membela, dan mendampingi keponakannya dengan cinta yang tak bersyarat, bahkan hingga detik-detik akhir hidupnya.
Parenting Kolektif dan Keteladanan Antar Generasi
