Oleh: Nur Hikmah Amalia, S. Pd – Guru SDN 19 Toboali, Bangka Selatan

Kasus bullying yang kembali terjadi di tingkat sekolah dasar dan bahkan menelan korban, menjadi tamparan keras bagi kita semua. Ketika anak-anak yang masih berada di usia emas pembentukan karakter justru saling menyakiti secara fisik dan mental, pertanyaan mendasar harus kita ajukan: Di mana peran orang dewasa dalam membentuk perilaku mereka?

Fenomena ini bukan sekadar masalah antar-anak. Ini adalah refleksi dari apa yang mereka lihat, dengar, dan alami—baik di rumah, sekolah, maupun dunia digital yang kini tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Anak-anak adalah cermin lingkungan mereka. Maka jika kekerasan tumbuh di antara mereka, bisa jadi benihnya tersemai dalam pola asuh, keteladanan yang minim, atau paparan media digital yang tidak terkontrol.

Baca Juga  Nurtanio dan Habibie: Api Semangat Kebangkitan Teknologi Indonesia

Bullying di SD: Bukan Kasus Sepele

Seringkali, bullying di tingkat SD dianggap remeh—disebut “kenakalan anak-anak,” “biasa ribut,” atau bahkan “hanya bercanda.” Padahal, efek jangka panjang dari bullying, terutama pada usia dini, sangat serius.

Korban bisa mengalami trauma psikologis, gangguan kecemasan, penurunan prestasi, hingga keinginan untuk mengakhiri hidup. Ketika kasus ini sampai memakan korban, kita tidak bisa lagi berlindung di balik kalimat “namanya juga anak-anak.”

Sering kali korban justru mendapatkan intimidasi dan pandangan miring oleh lingkungan sekitarnya, dikira “lebay” atau dilabeli sebagai anak “dramatis”. Hal ini kemudian membuat korban merasa tidak didengar dan diabaikan.

Refleksi Orang Dewasa: Mengubah Perspektif dan Peran

Baca Juga  Pentingnya Pendidikan Inklusi untuk Anak Berkebutuhan Khusus di Era Digital

Sebagai orang dewasa—baik sebagai orang tua, guru, maupun anggota masyarakat—kita perlu merefleksikan bagaimana selama ini kita memandang dan memperlakukan anak-anak.

Apakah kita memberikan ruang aman untuk anak-anak mengekspresikan emosi mereka? Apakah kita mengajarkan empati, bukan hanya prestasi? Apakah kita hadir sebagai pendengar, bukan hanya pemberi perintah?

Di era digital, anak-anak terpapar informasi yang luar biasa banyaknya. Konten kekerasan, budaya saling menjatuhkan, dan norma sosial yang tidak sehat mudah mereka konsumsi jika tidak diawasi.

Di sinilah letak urgensi pendampingan digital. Gadget bukan pengasuh anak. Youtube bukan guru moral. Tanggung jawab mendidik tetap ada pada kita.

Peran orang tua menjadi kunci dari keselamatan jiwa anak-anak dari paparan konten-konten yang kurang mendidik, perlunya orang tua juga memiliki kontrol yang besar dalam konsumsi smarthphone anak-anak di rumah.

Baca Juga  Penyelesaian Sengketa Waris dalam Era Digital: Tantangan Pembuktian dan Validitas Dokumen Elektronik