Dijaga Sejak Kecil untuk Misi Besar
Langit Menyambutnya, Dunia Belajar darinya (Bagian 10)
Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA
Sejak masa kecilnya, Nabi Muhammad SAW sudah `dipersiapkan untuk misi besar yang akan datang, dan persiapan ini bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual dan psikologis. Allah SWT telah menjaga beliau dengan penuh perhatian sejak beliau masih balita, melalui berbagai peristiwa yang menunjukkan perhatian-Nya terhadap masa depan yang mulia.
Salah satu peristiwa penting yang menggarisbawahi penjagaan Allah terhadap Nabi Muhammad SAW adalah pembedahan dada yang dilakukan oleh Malaikat Jibril.
Pada saat itu, Nabi yang masih kecil, sekitar usia empat atau lima tahun, sedang bermain bersama teman-temannya di padang pasir. Tiba-tiba, datanglah Malaikat Jibril yang membuka dada beliau dan mencuci hati Nabi dengan air zamzam. Proses ini bukanlah sekadar pembedahan fisik, melainkan simbol pembersihan jiwa dan hati Nabi, agar beliau tumbuh dalam keadaan yang murni dan bersih.
Seperti yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam hadits yang menceritakan peristiwa ini, “Malaikat Jibril datang, membelah dada Rasulullah, lalu mencuci hatinya dengan air zamzam” (HR. Bukhari). Peristiwa ini mengindikasikan bahwa Allah menjaga hati Nabi Muhammad agar tetap bersih dan siap menerima wahyu-Nya yang akan datang kelak.
Selain peristiwa pembedahan dada, ada kisah menarik lainnya yang menggambarkan bagaimana Allah menjaga Nabi Muhammad SAW dari pengaruh duniawi. Dalam sebuah riwayat, Nabi SAW yang masih kecil ingin ikut serta hadir dalam hiburan. Namun, saat ia berusaha untuk ikut bergabung, ia tiba-tiba merasa mengantuk dan tertidur.
Kisah ini terjadi beberapa kali. Hal ini menunjukkan bahwa Allah menjaga hati dan perasaan Nabi, agar tidak teralihkan oleh kesenangan dunia yang bisa mengalihkan perhatian dari misi besar yang akan diembannya. Seperti yang diceritakan oleh Imam al-Tirmidzi, ketika Nabi SAW masih kecil, beliau merasa tertidur jika hendak mengikuti permainan atau hiburan duniawi yang tidak sesuai dengan tujuan hidupnya.
Lebih jauh lagi, ada sebuah kisah yang menunjukkan bagaimana Allah SWT menjaga Nabi Muhammad SAW bahkan sejak sebelum beliau diangkat sebagai Rasul. Kisah ini terjadi ketika beliau masih muda, sekitar usia 35 tahun, saat penduduk Makkah tengah merenovasi bangunan Ka’bah yang rusak akibat banjir.
Muhammad muda ikut bergotong royong bersama kaum Quraisy. Beliau memikul batu-batu besar di pundaknya bersama pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib. Di tengah-tengah pekerjaan itu, pamannya menyarankan agar keponakannya mengangkat kain sarungnya dan meletakkannya di bahu, seperti yang dilakukan orang-orang lain, untuk menghindari lecet di kulit akibat batu-batu kasar.
Namun, tepat ketika beliau hendak melakukan hal itu, suatu tindakan yang secara tidak langsung bisa menyingkap auratnya, tiba-tiba beliau terjatuh dan tak sadarkan diri. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa saat itu malaikat Jibril datang dan mencegahnya, sebagai bentuk teguran ilahiah yang halus namun tegas.
Ketika Beliau tersadar, beliau segera menarik kembali kainnya dan sejak saat itu tidak pernah lagi terlihat membuka auratnya, bahkan dalam kondisi kerja berat sekalipun.
Kisah ini mungkin tampak sederhana, namun sarat makna. Ini adalah salah satu bukti bagaimana Allah SWT senantiasa menjaga kesucian Nabi-Nya, bahkan dalam situasi-situasi yang dianggap remeh oleh kebanyakan orang.
