Langit Menyambutnya, Dunia Belajar darinya (Bagian 12)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA

Perjalanan dagang Nabi Muhammad SAW ke Syam pada usia kanak-kanak tidak hanya sekadar perjalanan bisnis, tetapi juga menjadi proses tarbiyah (pendidikan) yang mendalam.

Bersama pamannya, Abu Talib, beliau berangkat untuk berdagang dan bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang budaya. Perjalanan ini bukan hanya memberikan pengalaman bisnis, tetapi juga menjadi waktu yang sangat penting untuk mempersiapkan mental dan kepribadian beliau sebagai pemimpin yang kelak akan membawa risalah besar bagi umat manusia.

Salah satu peristiwa penting yang terjadi dalam perjalanan ini adalah pertemuannya dengan Buhaira, seorang pendeta Kristen yang tinggal di daerah Busra, Syam. Dalam riwayat yang diceritakan oleh banyak ulama, termasuk dalam Sīrah Ibn Hishām, pertemuan ini dianggap sebagai salah satu titik balik dalam perjalanan hidup Rasulullah SAW.

Baca Juga  Rimbak, Lebak, Rebak, Kubak, Bebak, Kelekak (Bagian 2)

Ada dua versi yang sering disampaikan mengenai pertemuan ini. Salah satu versi menyebutkan bahwa Buhaira secara sengaja mengundang Nabi Muhammad SAW untuk datang ke biara tempat ia tinggal, sementara versi lain mengatakan bahwa pertemuan itu terjadi secara kebetulan ketika Rasulullah SAW sedang dalam perjalanan.

Namun, dalam kedua versi tersebut, yang jelas adalah bahwa Buhaira, setelah mengamati perilaku dan sikap Rasulullah SAW, segera mengenali tanda-tanda kenabian pada diri beliau.

Buhaira bertanya kepada Muhammad kecil tentang berbagai hal dan menyadari bahwa dia adalah orang yang disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu sebagai utusan terakhir. Buhaira kemudian memberi peringatan kepada Abu Talib agar menjaga pemuda itu dengan hati-hati, karena banyak orang yang akan berusaha menghalangi jalan beliau.

Baca Juga  Luka yang Tidak Pernah Hilang, tapi Tidak Mematikan Harapan (Bagian 30)

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari mengisahkan:
“Buhaira berkata kepada Abu Talib, ‘Saya melihat tanda-tanda kenabian pada anak muda ini. Jangan biarkan dia pergi ke negeri itu, karena orang-orang Yahudi dan Nasrani akan mengancamnya.’” (HR. Al-Bukhari)