Dampak Motivasi Orang Tua terhadap Pendidikan Anak
Dampak Motivasi Orang Tua terhadap Pendidikan Anak
Penulis: Selvi Oktaviani dan Nia Rahmadany — Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Di tengah berkembangnya dunia pendidikan, peran orang tua sebagai faktor eksternal penting tidak bisa diabaikan. Namun, realitas di SD Negeri 18 Pangkalpinang menunjukkan adanya tantangan serius: rendahnya motivasi orang tua terhadap pendidikan anak. Fenomena ini tak hanya berdampak pada anak sebagai individu belajar, tetapi juga merembet pada kualitas sekolah dan moral komunitas lokal.
Ada berbagai penyebab rendahnya motivasi orang tua. Banyak orang tua yang bekerja hingga larut sehingga perhatian terhadap pendidikan anak sering terabaikan.
Tingkat pendidikan dan kesadaran juga berpengaruh; orang tua dengan latar belakang pendidikan lebih tinggi cenderung lebih mampu menumbuhkan motivasi belajar anak.
Kurangnya keterlibatan dalam aktivitas sekolah membuat anak merasa belajar hanya kewajiban tanpa dukungan emosional. Rendahnya partisipasi orang tua dalam pendidikan usia dini pun menjadi indikator penting yang berkorelasi dengan lemahnya motivasi anak.
Di SD Negeri 18 Pangkalpinang, kondisi ini tampak jelas. Misalnya, salah seorang orang tua murid yang berprofesi sebagai buruh harian lepas.
Ia pulang larut malam, hanya bertemu anaknya sebentar untuk makan malam.
Begitu juga dengan seorang ibu rumah tangga, waktunya habis mengurus adik dan pekerjaan domestik. Akibatnya, anak-anak merasa kurang pendampingan, tugas sekolah tidak terpantau, komunikasi dengan guru minim, dan akhirnya anak menjadi apatis terhadap belajar.
Dampak rendahnya motivasi orang tua sangat luas. Bagi siswa, kondisi ini menurunkan minat belajar dan menahan prestasi mereka. Bagi sekolah, guru kesulitan menjaga semangat belajar siswa jika dukungan dari rumah minim. Sementara bagi komunitas, ketidakpedulian ini memperlebar kesenjangan kualitas pendidikan di masyarakat.
