Persahabatan yang Menumbuhkan
Langit Menyambutnya, Dunia Belajar darinya (Bagian 19)
Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA
Muhammad muda, sebelum diangkat menjadi Rasul, telah dikenal sebagai pribadi yang jujur, santun, dan cerdas. Karakter luhur ini tak hanya membuatnya disegani oleh masyarakat Makkah, tapi juga menarik hati orang-orang pilihan yang kelak menjadi sahabat setia dalam perjuangan dakwah.
Di antara mereka, salah satu yang paling menonjol adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sosok sahabat sejati yang hubungannya dengan Rasulullah SAW terjalin jauh sebelum Islam turun sebagai agama.
Abu Bakar, Sahabat Sejati Sejak Awal
Abu Bakar dikenal sebagai seorang pedagang sukses yang cerdas, berwawasan luas, dan disukai oleh kaumnya. Ia adalah satu dari sedikit orang yang tidak pernah menyembah berhala sekalipun sebelum Islam datang.
Dalam Sirah Ibn Hisyam disebutkan bahwa hubungan keduanya begitu dekat karena kesamaan nilai dan kecocokan dalam berpikir. Keduanya sering berbagi pandangan tentang kondisi masyarakat Quraisy yang rusak oleh kesyirikan, ketimpangan sosial, dan minimnya keadilan.
Ketika Rasulullah SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira dan menyampaikan risalahnya secara terbuka, Abu Bakar adalah orang pertama dari kalangan pria dewasa yang membenarkan kenabiannya tanpa ragu sedikit pun.
Begitu pula dalam kisah peristiwa Isro’ Mi’roj yang diluar nalar dan Batasan pengetahuan manusia, Abu Bakar berdiri paling depan membenarkannya. Inilah mengapa ia diberi gelar Ash-Shiddiq. Orang yang membenarkan tanpa syarat.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah aku mengajak seseorang kepada Islam, kecuali ia memiliki keraguan dan pertimbangan, kecuali Abu Bakar. Ia tidak menunggu dan langsung membenarkan aku.” (HR. Ahmad, No. 12159)
