Oleh: Raply Anugrah, Dzulfah Mawaddah, Asa Diamon, Laura Aulia Rosaline, Zaki Ardiansyah — Mahasiswa UBB

“Siapa di antara kalian yang ingin menjadi seorang hakim?”

Pernyataan ini dilontarkan oleh seorang hakim senior di Pengadilan Agama Pangkalpinang selama sesi diskusi yang kami jalani, Tim Kuliah Luar Kampus (KLK) dari Universitas Bangka Belitung (UBB) yang tengah menjalani proses Magang.

Suaranya tenang, namun pesannya mendalam. Kami saling bertatap muka, mencoba memahami jawaban atas pertanyaan seputar masa depan yang diajukan. Beberapa di antara kami tersenyum, sementara yang lain tampak diam, mungkin sadar bahwa pertanyaan yang tampak sederhana itu sejatinya adalah sebuah ujian bagi perasaan batin kami.

Baca Juga  Geger! Kakek Berusia 85 Tahun di Pangkalpinang Ditemukan Tewas Membusuk dalam Ruko

Menjadi seorang hakim. Kombinasi dua kata ini megah terdengar, sering kali kami dengar di bangku kuliah ketika dosen bertanya mengenai cita-cita. Namun baru nyatanya di dalam ruang persidangan, ketika menyaksikan langsung aktivitas hakim, kami benar-benar memahami beratnya tanggung jawab yang melekat pada profesi tersebut. Di balik toga hitam yang terlihat gahar, terdapat beban moral, tekanan sosial, dan dilema kemanusiaan yang kompleks.

Hakim yang berinteraksi dengan kami tersebut mengungkapkan banyak hal yang selama ini tidak kami temukan di ruang kelas. Ia menjelaskan bahwa tugas seorang hakim bukan semata-mata menegakkan hukum, melainkan juga mempertahankan kepercayaan publik terhadap keadilan.

“Menjadi hakim berarti menjaga nurani masyarakat,” ujarnya, “dan itu berarti kalian harus siap untuk menjalani hidup dalam kejujuran, bahkan ketika tidak ada yang mengamati.”

Baca Juga  GM PLN Paparkan Fakta Penting Kelistrikan di Bangka Belitung

Kami tertegun mendengar pernyataan itu. Kalimat tersebut mengingatkan kami bahwa profesi hakim bukan hanya sebuah pekerjaan, tetapi juga sebuah panggilan jiwa yang diberikan oleh Tuhan. Dalam kegiatan magang sehari-hari, kami menyaksikan bagaimana para hakim di Pengadilan Agama mengelola sidang dengan ketenangan luar biasa.

Mereka mendengarkan semua pihak tanpa menghakimi, menengahi dengan sabar, dan menyusun keputusan dengan pertimbangan yang mendalam. Di luar, mungkin ini terlihat seperti rutinitas. Namun, bila diperhatikan secara mendalam, setiap keputusan mereka mengandung makna yang dapat mempengaruhi kehidupan seseorang.

Hakim yang kami temui menceritakan bahwa dalam setiap kasus, selalu ada pertempuran batin. Terlebih lagi di pengadilan agama sendiri, di mana kasus yang ditangani seringkali berkaitan dengan keluarga, rumah tangga, dan masa depan anak-anak.

Baca Juga  Tim KLK UBB Magang di Pengadilan Agama Pangkalpinang

“Hakim bukanlah mesin untuk memutuskan perkara,” jelasnya, “kita juga manusia. Namun tanggung jawab kita adalah memastikan bahwa keputusan yang diambil senantiasa adil, meskipun perasaan kita terlibat.”

Kami merasakan betul bahwa kalimat tersebut bukan hanya sebuah teori, melainkan kenyataan. Dalam beberapa sidang yang kami hadiri, kami melihat hakim menenangkan pihak yang menangis, menunda sidang untuk memberikan waktu berpikir, bahkan memberikan nasihat kepada pasangan yang ingin bercerai agar mempertimbangkan keputusan mereka sekali lagi.