Terasi Bangka Selatan, Dari Tradisi ke Keberlanjutan
Terasi Bangka Selatan, Dari Tradisi ke Keberlanjutan
Oleh: Juliana Safitri Harahap — Mahasiswa Program Studi Perikanan Tangkap, Universitas Bangka Belitung
Terasi udang sungkur dari Bangka Selatan bukan sekadar bumbu masakan. Di balik aroma khas dan rasa gurih yang kuat, ia menyimpan jejak panjang budaya masyarakat pesisir.
Setiap keping terasi merekam kisah perjuangan nelayan, peran perempuan yang dengan telaten mengolah hasil laut, hingga warisan resep turun-temurun yang tetap dijaga di tengah arus modernisasi. Bagi masyarakat Bangka Selatan. Terutama di pesisir Toboali dan desa-desa seperti Batu Betumpang. Terasi bukan hanya sumber penghidupan, melainkan identitas yang melekat dalam keseharian.
Di Bangka Belitung, masyarakat sudah lama akrab dengan terasi yang dikenal sebagai “belacan”. Produk ini terkenal karena bahan dasarnya berasal dari udang segar pilihan, menghasilkan aroma khas dan cita rasa yang kuat. Tak heran, belacan Bangka sering dianggap memiliki kualitas yang sulit disaingi daerah lain. Bangka Selatan, khususnya wilayah Toboali, dikenal sebagai daerah penghasil terasi unggulan.
Keaslian yang Menjaga Cita Rasa
Terasi udang sungkur khas Bangka Selatan memiliki keunikan tersendiri dibandingkan produk serupa dari daerah lain. Proses pembuatannya masih mengandalkan cara tradisional yang sederhana namun bersih. Tanpa tambahan pengawet, tanpa pewarna buatan, dan menghasilkan cita rasa alami tanpa rasa pahit. Keaslian inilah yang membuat terasi Bangka Selatan digemari, bukan hanya karena rasanya yang gurih, tetapi juga karena menghadirkan rasa laut yang murni dan autentik dari tangan-tangan pengrajin pesisir.
Selain aspek ekologi, mutu dan higienitas produk juga menjadi sorotan. Sebagian besar pelaku usaha masih menggunakan cara-cara tradisional dalam proses pengolahan, mulai dari fermentasi hingga penjemuran di ruang terbuka. Cara ini memang mempertahankan cita rasa khas, tetapi sering menyebabkan ketidakkonsistenan mutu.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bahkan pernah memperingatkan bahaya penggunaan bahan tambahan berbahaya seperti rhodamin B dalam produk terasi. Kondisi ini menunjukkan pentingnya penerapan standar mutu yang lebih jelas, termasuk uji laboratorium, sertifikasi halal, dan penerapan SNI. Tanpa hal-hal tersebut, terasi Bangka Selatan akan sulit menembus pasar yang lebih luas.
Padahal, potensi pasarnya cukup besar. Di tingkat lokal, terasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kuliner Bangka, mulai dari sambal terasi hingga campuran masakan laut. Di luar daerah, terasi Bangka justru mulai dikenal sebagai produk unggulan. Di platform e-commerce, misalnya, satu bungkus terasi Bangka mentah No. 1 seberat 500 gram dijual sekitar Rp54.000, sementara kemasan premium 100 gram berkisar Rp12.000.
