Pimpin PW PII Babel, Garin Sadewa akan Wujudkan Pelajar yang Muslim, Cendekiawan, dan Pemimpin di Bangka Belitung
Pimpin PW PII Babel, Garin Sadewa akan Wujudkan Pelajar yang Muslim, Cendekiawan, dan Pemimpin di Bangka Belitung
PANGKALPINANG, TIMELINES.ID — Setelah melalui rangkaian proses musyawarah dan pemilihan yang berlangsung hangat namun tetap penuh kekeluargaan, Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akhirnya menetapkan nahkoda awal yang akan menuntun organisasi dalam periode perintisannya.
Sosok yang dipercaya memimpin langkah besar tersebut adalah Garin Sadewa, seorang kader muda yang telah lama aktif dalam kegiatan organisasi dan dikenal memiliki komitmen kuat terhadap dunia perpelajaran serta pembinaan karakter generasi muda.
Penetapan Garin Sadewa sebagai ketua terpilih disambut antusias oleh para kader, alumni, dan berbagai tokoh yang hadir. Acara pengukuhan berlangsung dalam nuansa khidmat, mencerminkan harapan besar terhadap masa depan PII Babel sebagai organisasi yang mampu menghadirkan perubahan signifikan di kalangan pelajar.
Dalam pidato perdananya, Garin Sadewa menegaskan bahwa kepemimpinannya akan berfokus pada misi fundamental PII, yakni membentuk pelajar yang beridentitas muslim, memiliki tradisi intelektual yang kuat, serta siap menjadi pemimpin bangsa.
“Kita ingin mewujudkan pelajar yang muslim, cendekiawan, dan pemimpin. Ini bukan hanya rangkaian kata yang indah, tetapi prinsip pokok yang akan menjadi dasar setiap langkah kita ke depan. PII lahir untuk membina pelajar agar tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak baik dan berdaya memimpin”, ujar Garin Sadewa dalam sambutannya.
Ia menekankan bahwa di tengah derasnya arus digitalisasi dan tantangan moral generasi muda, peran PII semakin relevan dan dibutuhkan. Menurutnya, pelajar saat ini berada dalam situasi yang membutuhkan pendampingan yang tepat, terarah, dan penuh empati.
Garin Sadewa melihat bahwa tantangan utama pelajar masa kini bukan semata-mata kekurangan akses informasi, melainkan kesulitan dalam memilah informasi, mengelola tekanan sosial, serta membangun karakter yang kokoh di tengah lingkungan yang berubah cepat. Ia menegaskan bahwa PII Babel akan menjadi wadah pembinaan yang tidak hanya menyentuh aspek intelektual, tetapi juga spiritual, moral, dan kepemimpinan.
