oleh: Agustian Deny Ardiansyah, S,Pd

OPINI, TIMELINES.ID — Terlebih ketika masuk pada materi budaya positif di lingkungan sekolah, sebagai guru saya sering memberikan label kepada murid – murid saya.

Kamu ini, kamu begini, kamu pintar, dia bodoh, dia nakal, dia rajin, dia malas dll.

Judsment tersebut ternyata bukanlah suatu hal yang baik untuk seorang guru lakukan terlebih setelah saya mempelajari materi budaya positif.

Budaya positif memberikan gambaran bahwa bukan hanya pembelajaranya saja yang harus dimanusiakan namun juga manusianya.

Yaitu dengan memahami kondisi dan latar belakang murid-murid kita, terlebih bagaimana cara kita menggali potensi murid dengan memahamai apa yang mereka lakukan dan bagaimana cara penyelesaiannya.

Hal itu dilakukan dengan menggunakan segitiga restitusi yang dilakukan dengan cara: 1. Menstabilkan identitas, 2. Validasi Tindakan yang salah dan 3. Menanyakan Keyakinan.

Ketiga cara tersebut diharapkan mampu untuk menggali apa yang mereka miliki dan menyadari apa yang meraka lakukan sehingga mereka memiliki perbaikan atas inisiasi dari dalam dirinya.

Hal itu dimulai dengan cara memandang peran saya sebagai guru?, bukan apa yang akan saya lakukan pada murid agar sesuai dengan keinginan saya.

Terlebih ketika mepelajari modul 2 tentang praktik pembelajaran yang berpihak pada murid, di mana pada modul itu lebih memperjelas bagaimana peran saya dalam menjadi fasilitator bagi murid.

Baca Juga  Mengapa Bulan Bahasa Jatuh di Oktober?

Hal itu dilakukan dengan 1) melakukan pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan murid, 2) pembelajaran sosial emosional dan 3) coacing untuk supervisi akademik.

Melalui modul 2 tersebut saya memahami bahwa murid dalam satu kelas tidak memiliki kebutuhan dan minat yang sama, oleh karena itu perlu pembelajaran yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

Pada modul tersebut saya merasa diingatkan bahwa pembelajaran haruslah mampu mengakomodir kegiatan pembelajaran yang berdiferensiasi.

Pembelajaran berdiferensiasi dapat diartikan sebagai pembelajaran yang memenuhi kebutuhan belajar murid.

Hal itu dapat dilakukan dengan terlebih dahulu memetakan kebutuhan murid yang terkait 1) kesiapan belajar murid, 2) minat murid dan 3) profil murid di mana hal itu digunakan untuk merancang proses pembelajaran untuk mengakomodir kemampuan murid.

Selain itu, dalam pembelajaran berdiferensiasi juga menekankan pada suatu strategi yang sangat inklusif, yaitu diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk sehingga mampu mengakomodir kemampuan murid terkait materi yang dibahas dengan menyesuaikan minat dan keinginan murid tanpa melenceng dari capain belajar yang ingin dicapai.

Baca Juga  Buka 3 Paket Pelatihan, Disnaker Babel Latih 48 Peserta

Penguatan pembelajaran berdiferensiasi tersebut juga kemudian di kaitkan erat dengan bagaimana guru mampu menghadirkan iklim sosial dan emosional pada murid yang juga berkembang dengan menekakankan pada 1) kesadaran diri, 2) manajemen diri, 3) ketrampilan berelasi, 4) pengambilan keputusan yang bertanggungjawab, dan 5) kesadaran sosial.

Hal itu dilakukan dengan, pertama, meakukan penerapan teknik STOP (Stop, Take a deep breath, Observe, dan Proceed) dengan cara PSE berbasis Mindfulness, identifikasi perasaan baik secara lisan maupun tulis dalam bentuk jurnal diri, membuat puisi aktrostik, membuat kolase diri, memeriksa perasaan diri, atau menuliskan ucapan terima kasih dalam aktifitas pembelajaran yang akan saya lakukan.

Kedua: Mengintegrasikan lima komponen PSE yaitu Kesadaran Diri (Self Awareness), Pengelolaan Diri (Self Management), Kesadaran Sosial (Social Awareness), Kemampuan Berinteraksi Sosial (Relationship Skills), Pengambilan Keputusan Bertanggung Jawab (Responsible Decision-Making) ke dalam RPP yang akan kita buat.

Ketiga: Mendorong suatu kegiatan disiplin positif sekolah dengan mengedepankan aktifitas penguatan PSE yang dilakukan secara rutin, terintegrasi dalam pembelajaran, dan atau protokol yang dilakukan baik oleh PTK (Pendidik dan Tenaga Kependidikan) dan murid di sekolah tempat kita berada.

Penguatan-penguatan tersebut tidak dilakukan begitu saja namun harus dilakukan refleksi dengan melakukan penerapan coacing dalam rangka supervisi akademik di mana hal tersebut dilakukan untuk merefleksi apa yang telah saya lakukan sehingga saya memahami betul bagaimana langkah selanjutnya dalam program atau kegiatan belajar yang saya lakukan.

Baca Juga  Kepala Kanwil DJPb Babel Klaim Pejabatnya Patuh Dalam LHKPN

Di mana kegiatan tersebut harus dilakukan menggunakan alur TIRTA di mana kita menggali potensi dan ide dari coachee dengan langkah awal menetapkan tujuan terkait yang akan kita bahas dalam coacing, melakukan identifikasi, membuat rencana aksi, dan meneguhkan tanggung jawab terkait hal-hal yang telah coachee ungkapan untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapinya.

Terakhir, setelah bagaimana saya memahami peran saya sebagai guru dalam mengembangnkan potensi murid yang saya ampu, maka sekarang saatnya saya bercerita tentang bagaimana posisi saya dalam pengembangan sekolah.

saya sadar betul bahwa guru seperti saya tidak memiliki banyak suara yang bisa diungkapkan, maka saya lebih berfokus pada apa yang ingin saya lakukan terhadap hal-hal yang bisa saya lakukan untuk murid saya.

Namun paradigma tersebut sudahlah usang, terlebih setelah saya beranjak pada modul selanjutnya tentang Pemimpin Pembelajaran dalam Pengembangan Sekolah.

Saya sebagai guru tidak bisa bergerak sendiri, apalagi menjadi hero. Tidak.