Oleh: Ika Dewi Fitria Maharani, M.Pd. — Pengajar di Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA, Toboali

Ramadan selalu menjadi bulan evaluasi. Orang tua lebih perhatian pada ibadah anak, suasana rumah lebih religius, dan percakapan tentang pahala serta dosa lebih sering terdengar. Namun ada satu pertanyaan yang jarang direnungkan secara mendalam: mengapa dalam Islam anak usia sepuluh tahun boleh ditegaskan secara serius dalam urusan salat, bahkan diperbolehkan diberi pukulan pendidikan apabila ia menolak melaksanakannya?

Pertanyaan ini bukan soal kekerasan. Ini soal prioritas pendidikan.

Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan dalam Surah Maryam ayat 59 tentang generasi yang menyia-nyiakan salat lalu mengikuti hawa nafsu. Urutannya tidak terbalik. Bukan karena mengikuti hawa nafsu lalu meninggalkan shalat, tetapi ketika shalat diremehkan, hawa nafsu mengambil alih.

Baca Juga  Manfaat Sedekah untuk Kesehatan menurut Islam

Ayat ini memberi isyarat bahwa shalat bukan hanya kewajiban ritual, melainkan fondasi kontrol diri.

Usia Sepuluh Tahun Bukan Angka Sembarang

Anak usia sepuluh tahun sedang berada di ambang perubahan besar. Ia belum baligh, tetapi tidak lagi sepenuhnya kanak-kanak. Kesadaran diri mulai tumbuh. Ego mulai terasa. Keinginan untuk memilih sendiri semakin kuat.

Di usia inilah latihan pengendalian diri menjadi sangat penting.

Salat melatih anak untuk menghentikan aktivitasnya ketika adzan berkumandang. Ia belajar bahwa tidak semua keinginan harus dituruti. Bermain bisa ditunda. Rasa malas harus dilawan. Kenyamanan harus dikalahkan oleh kewajiban. Itu adalah pelajaran besar.

Jika sejak kecil anak tidak pernah belajar menghentikan dirinya sendiri demi sesuatu yang lebih tinggi, maka kelak ia akan sulit menahan dorongan yang lebih besar—baik dorongan emosi, kemalasan, maupun syahwat ketika ia beranjak dewasa.

Baca Juga  Khutbah Idulfitri 1447 H: Ramadan Mendidik Takwa, Idulfitri Menghidupkan Empati

Karena itu, penekanan shalat di usia sepuluh tahun adalah pendidikan kontrol diri sebelum masa baligh datang sepenuhnya.

Mengapa Salat yang Ditegaskan, Bukan Ibadah Lain?

Anak yang tidak mau umrah tidak diperintahkan untuk dipukul. Anak yang enggan bersedekah juga tidak diberi penegasan serupa. Mengapa?

Karena shalat adalah tiang agama. Ia bukan pelengkap, melainkan pondasi.

Shalat hadir lima kali sehari. Ia membentuk ritme hidup. Ia menanamkan kesadaran bahwa hidup ini memiliki pusat: hubungan dengan Allah. Tanpa pusat itu, manusia mudah kehilangan arah.

Dalam konteks pendidikan, salat adalah sistem pembentukan karakter paling konsisten. Ia mengajarkan disiplin waktu, kebersihan, kerapian, ketundukan, serta kesadaran spiritual secara simultan. Tidak ada ibadah lain yang frekuensinya setinggi dan seintens salat.

Baca Juga  Persahabatan yang Menumbuhkan

Karena itulah ia mendapatkan penekanan khusus.