Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 24): Saat Anak Tumbuh Lebih Besar dari Luka
Saat Anak Tumbuh Lebih Besar dari Luka (QS. Yusuf: 54–56)
Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Ponpes Qur’an CAHAYA, Toboali
Tidak semua luka masa lalu harus menjadi beban sepanjang hidup. Ada orang yang membawa luka itu hingga ia menjadi pahit terhadap dunia. Namun ada juga yang justru tumbuh lebih dewasa karenanya.
Kisah Yusuf memperlihatkan jenis yang kedua.
Setelah peristiwa penjara dan pemulihan nama baiknya, Yusuf dipanggil oleh raja dan berbicara langsung dengannya. Percakapan itu meninggalkan kesan yang sangat kuat.
Al-Qur’an menyebutkan:
“Maka ketika raja telah berbicara dengannya, dia berkata: ‘Sesungguhnya hari ini engkau menjadi orang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya di sisi kami.’” (QS. Yusuf: 54)
Menariknya, Al-Qur’an tidak menggambarkan Yusuf dengan emosi yang berlebihan pada momen ini. Ia tidak digambarkan meluapkan kegembiraan setelah bertahun-tahun dipenjara. Ia juga tidak menunjukkan kemarahan atas perlakuan tidak adil yang pernah ia alami.
Ada ketenangan.
Seolah-olah perjalanan panjang itu telah mengendapkan sesuatu dalam dirinya.
Yusuf pernah dikhianati oleh saudara-saudaranya. Ia pernah dijatuhkan ke dalam sumur. Ia pernah hidup sebagai budak di negeri asing. Ia pernah difitnah dan dipenjara tanpa kesalahan.
Pengalaman seperti ini bisa membuat seseorang kehilangan kepercayaan pada orang lain. Bisa juga membuat hati menjadi keras.
Namun pada diri Yusuf, yang muncul justru kematangan.
Ia tidak membawa kemarahan masa lalu ke dalam fase hidup yang baru. Ia tidak hidup sebagai orang yang terjebak dalam luka.
Ini menunjukkan satu hal penting: Yusuf tidak membiarkan masa lalunya menentukan masa depannya.
Al-Qur’an kemudian menyebutkan bagaimana Allah memberikan kedudukan kepadanya di negeri itu:
