Oleh: Kaum Pecinta Damai

Di sudut meja yang biasa kau duduki,
kini hanya ada sepi yang mengetuk-ngetuk piring porselen.
Aroma masakanmu masih tertinggal di gorden dapur,
namun tangan yang menabur garam itu telah pulang ke pelukan keabadian.

Ibu,
Kau adalah kamus bagi segala tangisku,
penerjemah paling fasih untuk setiap luka yang tak sempat kuucapkan.
Kini, duniaku kehilangan porosnya,
berputar tanpa arah di antara kenangan dan kenyataan yang pahit.

Baca Juga  Palung Makna pada Mata