Saat Akal Menunduk, Iman Tegak: Mengembalikan Wahyu sebagai Kompas, Bukan Sekadar Opini
Saat Akal Menunduk, Iman Tegak: Mengembalikan Wahyu sebagai Kompas, Bukan Sekadar Opini
Oleh: Sobirin Malian — Dosen Penggiat Literasi
Di panggung peradaban modern, kita sering melihat sebuah paradoks yang ganjil: manusia begitu mendewakan akal, namun di saat yang sama, mereka kehilangan arah makna. Salah satu problem paling akut yang dihadapi umat Islam hari ini adalah kesalahan fatal dalam menempatkan posisi akal. Akal yang seharusnya menjadi alat untuk memahami pesan Tuhan, kini sering dipaksa menjadi hakim yang menentukan apakah pesan Tuhan itu masih “layak” diikuti atau tidak.
Inilah pergeseran metodologis yang membahayakan. Ketika akal ditempatkan di atas wahyu, iman perlahan meluruh, hukum menjadi relatif, dan sekularisasi nilai menyelinap masuk ke ruang privat hingga publik.
Akal: Instrumen, Bukan Otoritas Absolut
Islam tidak pernah memusuhi akal. Sebaliknya, Al-Qur’an penuh dengan provokasi intelektual seperti “afala ta’qilun” (apakah kamu tidak berpikir?). Namun, Islam menaruh akal dalam hierarki yang presisi. Akal adalah mata, dan wahyu adalah cahayanya. Sehebat apa pun sebuah mata, ia tetap buta tanpa cahaya.
Sebagaimana diingatkan dalam QS. Al-Isra’ ayat 36, kita dilarang mengikuti sesuatu tanpa ilmu. Namun, ilmu yang sejati adalah yang menyadari batasannya. Menjadikan akal sebagai sumber hukum independen adalah bentuk kenaifan intelektual, karena akal manusia bersifat terbatas dan kontekstual.
Jebakan Ego di Balik Jubah Rasionalitas
Secara psikologis, seringkali penolakan terhadap wahyu bukan karena wahyu itu tidak logis, melainkan karena wahyu itu menuntut ketundukan. Manusia memiliki kecenderungan mempertahankan otonomi diri yang berlebihan. Saat sebuah hukum Tuhan terasa “berat”, akal digunakan sebagai alat pembenaran (justifikasi) untuk menghindar, bukan alat pencarian kebenaran (verifikasi).
Masalahnya seringkali bukan pada kapasitas otak kita, melainkan pada kesiapan hati untuk taat. Seperti sindiran Tuhan dalam QS. Al-Anfal ayat 21, banyak yang mengaku mendengar, namun pada hakikatnya telinga hati mereka tertutup oleh ego.
