Ketika Teknologi Bertemu Strategi: Masa Depan Kemitraan Indonesia–Korea Selatan di Era AI dan Pertahanan
Oleh: Nurjannah — Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah
Bagaimana jika kemenangan sebuah negara di masa depan tidak lagi ditentukan oleh jumlah tentaranya, tetapi oleh kecanggihan algoritma yang dimilikinya? Menurut PwC, kecerdasan buatan diperkirakan menyumbang hingga USD 15,7 triliun terhadap ekonomi global pada 2030.
Angka tersebut menunjukkan bahwa Artificial Intelligence (AI) bukan lagi sekadar inovasi teknologi, melainkan instrumen strategis yang memengaruhi daya saing ekonomi, keamanan nasional, dan posisi geopolitik suatu negara. Di tengah perkembangan itu, kerja sama Indonesia dan Korea Selatan di bidang AI serta pertahanan menjadi semakin penting.
Sejak terjalinnya hubungan diplomatik pada tahun 1973, Indonesia dan Korea Selatan terus menunjukkan perkembangan hubungan bilateral yang dinamis. Hubungan kedua negara awalnya banyak bertumpu pada perdagangan, investasi, dan kerja sama manufaktur.
Namun, dalam dua dekade terakhir, kemitraan tersebut berkembang jauh lebih luas. Korea Selatan kini menjadi salah satu mitra krusial Indonesia dalam pengembangan industri strategis, transformasi digital, pendidikan, pembangunan infrastruktur, hingga modernisasi pertahanan nasional.
Perkembangan ini bukan hal yang mengejutkan. Korea Selatan merupakan contoh negara yang berhasil melakukan lompatan pembangunan melalui investasi pada pendidikan, teknologi, dan industri. Dalam beberapa dekade, Korea Selatan mampu bertransformasi dari negara miskin pasca perang menjadi salah satu kekuatan ekonomi dan teknologi dunia. Perusahaan seperti Samsung, Hyundai Motor Company, dan LG menjadi simbol keberhasilan negara tersebut membangun ekonomi berbasis inovasi. Pengalaman ini membuat Korea Selatan menjadi mitra strategis bagi banyak negara, terutama Indonesia.
Momentum baru hubungan kedua negara semakin terlihat melalui kunjungan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, ke Korea Selatan pada 31 Maret hingga 2 April 2026. Kunjungan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan penting yang menandai penguatan kerja sama di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik global, perlombaan teknologi, dan tantangan keamanan baru. Dalam konteks ini, hubungan Indonesia- Korea Selatan tidak dipahami hanya sebatas hubungan dagang, tetapi sebagai kemitraan strategis yang menyentuh kepentingan jangka panjang kedua negara.
Salah satu sektor paling menjanjikan dalam kemitraan ini adalah kecerdasan buatan atau AI Saat ini, AI telah digunakan dalam berbagai sektor penting, mulai dari layanan kesehatan, transportasi, pendidikan, manufaktur, hingga pertahanan.
Teknologi ini memungkinkan analisis data dalam jumlah besar secara cepat, meningkatkan efisiensi kerja, dan membantu pengambilan keputusan secara lebih akurat. Karena itu, negara-negara besar kini berlomba-lomba membangun ekosistem AI nasional mereka.
Dalam buku The Age of AI (2021), Henry Kissinger, Eric Schmidt, dan Daniel Huttenlocher menjelaskan bahwa AI tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga berpotensi mengubah cara negara memahami kekuasaan dan mengambil keputusan strategis. Pernyataan ini semakin menegaskan bahwa persaingan global di masa depan bukan lagi tentang sumber daya alam atau kekuatan militer, tetapi juga soal siapa yang menguasai teknologi cerdas.
Bagi Indonesia, kerja sama AI dengan Korea Selatan membuka peluang besar. Korea Selatan dikenal memiliki salah satu infrastruktur digital terbaik di dunia, tingkat konektivitas internet tinggi, dan investasi riset teknologi yang konsisten.
