Oleh: Dr. Fitri Ramdhani Harahap, M.Si — Sosiolog Universitas Bangka Belitung 

Di tengah hamparan laut yang membentang di Kecamatan Kepulauan Pongok, Kabupaten Bangka Selatan, terdapat sebuah pulau kecil bernama Pulau Celagen yang juga dikenal sebagai Desa Celagen. Pulau yang jauh dari pusat keramaian itu menjadi tempat lahir seorang pemuda yang kisah hidupnya layak menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya mereka yang tumbuh di desa-desa terpencil dan wilayah kepulauan. Pemuda tersebut adalah Alpian Jupri, S.Sos, seorang anak nelayan yang berhasil menjadi sarjana pertama dari Pulau Celagen dan kini memilih kembali mengabdi untuk membangun kampung halamannya.

Perjalanan Alpian menuju pendidikan tinggi tidak lahir begitu saja. Semangatnya berakar dari perjuangan sang ayah, seorang nelayan Bugis yang sejak kecil telah merasakan kerasnya kehidupan. Ketika masih anak-anak, ayah Alpian dibawa oleh ibunya merantau ke Pulau Celagen. Di pulau kecil itulah ia tumbuh dan menghabiskan sebagian besar masa mudanya dengan membantu sang paman mencari nafkah di laut.

Baca Juga  Kanwil Kemenkumham Babel Ajak Daftar Kekayaan Komunal Basel, Eddy Supriadi: Kami Sangat Mengapresiasi

Sejak kecil, ia memiliki keinginan besar untuk bersekolah dan memperoleh pendidikan yang layak. Namun kondisi ekonomi keluarga saat itu membuat cita-cita tersebut tidak pernah bisa terwujud. Keterbatasan biaya memaksanya meninggalkan bangku sekolah dan memilih bekerja demi membantu keluarga. Meski demikian, mimpi yang tidak sempat diraihnya tidak pernah benar-benar hilang. Dalam dirinya tertanam tekad kuat bahwa kelak anak-anaknya harus mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik daripada dirinya.

Tekad itulah yang kemudian menjadi fondasi perjalanan hidup Alpian. Sebagai anak tertua dari tiga bersaudara, Alpian tumbuh dengan pemahaman bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan. Sang ayah menyadari bahwa kehidupan di pulau yang serba terbatas membutuhkan pengorbanan lebih besar jika ingin meraih pendidikan yang lebih tinggi.

Baca Juga  Polres dan Kodim Basel Gelar KRYD, Puluhan Bungkus Arak Diamankan

Karena itu, setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama, Alpian dikirim untuk melanjutkan sekolah menengah atas di Belitung. Keputusan tersebut bukanlah hal mudah, baik bagi Alpian maupun keluarganya. Untuk pertama kalinya ia harus hidup jauh dari orang tua dan belajar mandiri di usia yang masih muda.

Menempuh pendidikan dari Pulau Celagen bukan perkara sederhana. Keterbatasan sarana transportasi, akses informasi yang tidak seluas di perkotaan, serta kondisi ekonomi keluarga menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari. Namun justru dari keterbatasan itulah lahir semangat yang semakin kuat.