Oleh: Sobirin Malian — Dosen Penggiat Literasi

Dahulu, Indonesia dikenal dunia lewat sebuah identitas yang megah: bangsa yang ramah dan menjunjung tinggi unggah-ungguh. Sopan santun bukan sekadar etiket kaku, melainkan urat nadi yang mengalirkan rasa kemanusiaan dalam keseharian. Namun hari ini, jika kita berani jujur menatap cermin sosial kita, identitas itu terasa makin asing. Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena yang mengkhawatirkan—sebuah pergeseran di mana tata krama tidak lagi dianggap sebagai fondasi, melainkan sekadar aksesoris masa lalu yang mulai ditinggalkan.

Runtuhnya Sakralitas di Ruang Kelas

Gejala kebangkrutan moral ini paling telanjang terlihat di ruang yang seharusnya menjadi benteng terakhir peradaban: institusi pendidikan. Ruang kelas di tingkat SMP, SMA, hingga perguruan tinggi kini sering kali berubah menjadi panggung teatrikal yang miris. Kita tidak lagi asing dengan berita tentang siswa yang membentak gurunya, mahasiswa yang meremehkan dosennya, atau hilangnya batasan hierarki yang sehat antara pencari ilmu dan pemberi ilmu.

Baca Juga  Seorang Pemuda Dikabarkan Hilang Terseret Ombak saat Cari Lokan di Pantai Teluk Uber

Atas nama kebebasan berekspresi yang kebablasan, batasan adab sengaja dikaburkan. Guru tidak lagi dipandang sebagai orang tua kedua atau pelita spiritual, melainkan direduksi perannya hanya sebagai “penyedia jasa” penilai angka. Ketika pendidikan kehilangan sakralitasnya dan hanya dianggap sebagai transaksi ekonomi, maka runtuhlah rasa hormat.

Palagan Anarki Bahasa di Ruang Digital

Krisis keluhuran budi di ruang kelas ini menemukan akseleratornya di ruang digital. Media sosial, yang semula digadang-gadang sebagai alat pemersatu dan ruang diskusi yang mencerahkan, kini justru bertransformasi menjadi palagan anarki bahasa. Rasa-rasanya, kata-kata yang meluncur dari jemari warganet kita begitu mudahnya menjadi sangat kasar, penuh caci maki, dan benar-benar jauh dari etika berkomunikasi yang beradab.

Baca Juga  Benarkah Pemikiran Kolot Jadi Faktor Utama Sebaran Tenaga Kerja Tidak Merata?

Di balik tameng layar gawai dan anonimitas, manusia modern kehilangan rem empatinya. Kritik berubah menjadi perundungan (bullying), perbedaan pendapat diselesaikan dengan pembunuhan karakter, dan fitnah dikemas sebagai hiburan harian. Ironisnya, kekasaran verbal digital ini dianggap sebagai bentuk “kejujuran” atau “sikap apa adanya”. Ada distorsi logika yang akut di sini: kita mulai menukar kelancangan dengan keberanian, dan menganggap kesantunan sebagai kepalsuan. Karakter digital yang brutal ini kemudian bertimbal balik, mengikis kesabaran kita di dunia nyata, dan melatih generasi muda untuk meremehkan siapa saja.

Ketika Ketokohan Kalah oleh Nilai Pasar

Keretakan ini menjalar cepat ke dalam struktur masyarakat yang lebih luas. Di lingkungan sosial, figur orang tua dan tokoh masyarakat perlahan kehilangan taringnya. Mereka tak lagi dipandang sebagai kompas moral atau figur yang berjasa membentuk lingkungan.

Baca Juga  Membangun Kawasan Pendidikan, Pentingkah?