Sementara suami bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Tiap kali saya turun, saya prihatin kondisi masyarakat. Makanya saya mengajak untuk bersama peduli kepada mereka yang membutuhkan,” ujarnya.

Sementara, ibu Yuli harus mencari nafkah sendiri untuk menghidupi dua anaknya. Apalagi, di dalam rumahnya tergenang air dengan kondisi juga memprihatinkan.

“Kasihan mereka, saya bantu kasur, mukena, beras dan Alquran. Ibu Yuli itu warga Pintu Air Sementara ibu Wati warga Kampung Keramat,” katanya.

Baca Juga  Kapolda Babel Cek Bandara, Ada Peningkatan Penumpang hingga 6.000 Orang