Lebih lanjut, BPS menyebut mayoritas komponen pengeluaran pada triwulan IV-2022 tumbuh positif. Ekspor mampu tumbuh tinggi sebesar 14,93 persen (yoy) karena didorong windfall komoditas unggulan. Sementara itu, impor tumbuh 6,25 persen (yoy) yang didorong kenaikan impor bahan barang modal dan bahan baku. 

 

 

 

“Konsumsi rumah tangga masih jadi tumpuan ekonomi kita dengan kontribusi 51,65 persen dan mampu tumbuh sebesar 4,48 persen. Artinya, konsumsi masih terjaga seiring program perlindungan sosial yang diramu KPC-PEN, seperti Kartu Pra Kerja, BLT BBM, Bantuan Subsidi Upah, subsidi energi, subsidi KUR, hingga dukungan APBD. Ke depan, kita perlu jaga daya beli masyarakat dengan mengendalikan inflasi serta terus optimalisasi program perlindungan sosial,” tambahnya. 

Baca Juga  Arema FC Isi Jeda BRI Liga 1 2023/24 Dengan Pemusatan Latihan

 

BPS mencatat seluruh lapangan usaha juga tercatat positif pada kuartal IV-2022. Sektor unggulan seperti industri, perdagangan, pertambangan, pertanian, dan konstruksi melanjutkan tren positif dan tumbuh mengesankan. Peningkatan mobilitas masyarakat juga berdampak pada pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan, serta akomodasi dan makan minum. 

 

Pada kesempatan yang sama, Puteri mengapresiasi kerja Komite Penanganan Covid‑19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) dalam mengendalikan pandemi. Pasca dicabutnya kebijakan PPKM pada akhir 2022, Puteri optimistis adanya peningkatan pergerakan penduduk yang berdampak pada perputaran ekonomi.

 

 

 

“KPC-PEN juga berhasil kendalikan pandemi. Sehingga, Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) telah dicabut akhir tahun lalu, hal ini pastinya dapat semakin mendorong pergerakan mobilitas penduduk. Sehingga nantinya berdampak pada perputaran ekonomi daerah dan nasional.” lanjut Legislator Dapil Jawa Barat VII itu

Baca Juga  Presiden Jokowi Tinjau Kesiapan Pelaksanaan KTT ASEAN ke-42 di Labuan Bajo

 

 

 

Menutup keterangannya, anggota Badan Kerjasama Antar Parlemen DPR RI ini menyatakan capaian-capaian tersebut dapat menjadi modal untuk tetap optimis dalam mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen (yoy) di tahun 2023. Banyak pihak yang memprediksi perekonomian dunia pada tahun 2023 dibayangi risiko resesi global.