Sirius (Part 1)
Aku masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi, mungkin itu sebabnya aku mempercayainya. Aku menghampiri Ibu dan menepuk-nepuk bahunya mencoba memberinya kenyamanan yang tidak kuketahui apa itu. “Sudahlah, bu. Aku juga kangen Kathy. Tapi dia sekarang sudah di tempat yang lebih baik, kan? Dia bersama bintang-bintang sekarang.”
Ibu hanya mengangguk dengan senyum yang terpaksakan seraya memelukku erat. Aku tidak tahu apa yang terjadi dan hari-hari berikutnya masih berjalan sepertj biasa. Tidak ada yang berubah.
Hingga akhirnya aku menyadari, ada yang salah dengan Ayah. Dia semakin pucat dan lemah setiap harinya. Terkadang Ayah meringis kesakitan jika dia tidak melihatku. Aku mulai berpikir Ayah sakit, tapi tak terpikirkan olehku seberapa buruk sakitnya. Aku hanya berpikir Ayah sakit biasa dan akan sembuh dengan minum obat. Aku dengan polosnya menyuruhnya minum obat dan menemui dokter.
Aku tidak mau dia sakit atau terluka. Setiap mendengarku mengatakan hal itu, dia menunjukan senyum tabah. Tiba saat kondisi Ayah semakin memburuk dan Ayah tidak bisa lagi menyembunyikannya dariku. Suatu malam dia berteriak kesakitan yang membangunkanku dari tidurku. Aku berlari ke kamar orang tuaku dan kulihat ibu berbicara di telepon dengan panik sambil menyebutkan ambulans beberapa kali.
Saat kubukan pintu kamarnya, pemandangan paling menakutkan dan mengerikan muncul di depan mataku.
Ayah meronta-ronta kesakitan sambil memegangi dadanya, napasnya tidak teratur dan terdengar mengi, matanya merah dan berair, dan wajahnya lebih pucat dari yang biasa kulihat. Aku terlalu terkejut dengan apa yang kulihat, hanya bisa terpaku memandanginya melawan rasa sakit.
Seandainya aku tahu apa yang terjadi, aku akan datang padanya dan berusaha menenangkannya. Aku terus seperti itu, terdistorsi dari dunia selain Ayah hingga aku mendengar banyak orang berpakaian medis masuk ke rumah kami dan membawa Ayah dengan tandu. Saat itulah aku sadar, Ayah sekarat dan dia bisa saja meninggalkanku.
Aku mulai menangis dan kurasakan tanganku ditarik oleh ibuku. Ibu membawaku ke mobil dan aku melihat detik-detik Ayah dibawa masuk ke dalam ambulans. Rasa sakitnya tak terlukiskan, memori ini akan terus melekat dalam ingatanku. Ibu menangis sambil berkendara, yang membuatku sedikit khawatir. Tapi aku tidak bisa menyalahkannya karena keadaannya.
Bersambung

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.