Lanjut dia, berdasarkan hasil rekapitulasi data ekspor 2022 menunjukkan peningkatan volume dan nilai ekonomi ekspor sebesar 63 persen dan 110 persen. Indikator lain yang juga mengalami peningkatan adalah diversifikasi produk sebesar 50 persen dan frekuensi pengiriman sebesar 42 persen seperti sawit dan turunannya serta lada.

“Namun demikian, terdapat beberapa produk unggulan komoditas pertanian Bangka Belitung yang mengalami penurunan baik volume ekspor maupun nilai ekonominya dibandingkan dengan Tahun 2021 yaitu karet sebesar 39 persen dan 45 persen, diikuti tapioka secara volume turun sebesar 91 persen namun secara nilai ekonomi naik sebesar 99 persen,” ujarnya.

Hal ini, dikatakannya, setelah dirangkum permasalahannya baik dari hulu ke hilir perlu penguatan sistem hilirisasi komoditas pertanian unggulan asal Bangka Belitung melalui klinik ekspor terintegrasi secara digital sebagai solusi pemecahan masalah secara bersama- sama dan berkolaborasi dengan instansi terkait baik vertikal maupun horisontal dari hulu ke hilir

Baca Juga  Gugatan Erlzaldi-Yuri Ditolak, Hidayat Arsani-Hellyana Gubernur dan Wagub Bangka Belitung

Dalam rangka mendukung program Kementerian Pertanian dalam gerakan tiga kali lipat ekspor (Gratieks) dan karantina Pertanian sebagai koordinator ekspor mengawal komoditas pertanian unggulan dan keragaman komoditas dari Bangka Belitung dapat eksis berkontribusi nasional dan naik kelas mendunia.

“Hal ini tentu dibutuhkan harmonisasi peraturan antar instansi terkait dan pengguna jasa serta pembinaan ke petani petani yang memiliki komoditas pertanian berpeluang ekspor dari hulu ke hilir. Komoditas unggulan asal Babel khususnya komoditas sawit dan turunanya, karet, tapioka, lada dan sarang burung walet yang memiliki potensi besar,” pungkasnya.