Debat Cacing
Calon Arang sedang merapal mantra, kah? Entahlah, tapi yang terjadi selanjutnya adalah … kedatangan seorang hantu perempuan, lengkap dengan kawanannya yang berwajah buruk.
Ahh, rasa-rasanya aku pernah melihat rupa hantu perempuan itu, tapi di mana, ya?
“Hei, itu kan Dewi Durga yang biasa disembah orang-orang! Coba lihat mukanya mirip dengan patung di pura sebelah!” Salah satu kawanku berteriak. Seketika aku teringat dan bersetuju.
bunga bunga
adalah petaka
di pengujung kematian
biar biar
cacing cacing
mengurainya
dari kelamnya
kehilangan
Ahh, lagi-lagi perempuan aneh itu merapal mantra. Mungkin ia hendak merayu dewi pujaannya. Entahlah, aku tak dapat mengupingnya. Namun, aku yakin itu berupa tulah, kutukan, dan semacamnya.
…..
Uh, benar saja, keesokan harinya, kami para cacing menemukan ratusan mayat bergelimpangan di sepanjang jalan. Kami pun dilanda kebingungan akut, hendak kami apakan mayat-mayat hasil kutukan ini?
“Aku tak mau, ahh, makan mayat hasil tulah begini!” Temanku merutuk. Namun, temanku yang lain –yang badannya lebih gendut, justru berkata sebaliknya, “Hei, bodoh! Ini justru anugrah untuk kita. Kita bisa makan berhari-hari sampai kenyang betul,” cecarnya.
“Sudah … sudah. Lebih baik kita bicarakan ini kepada Mpu Barada!” Akhirnya aku menyarankan untuk menemui pendeta tua saja. Menurutmu bagaimana? Apakah keputusanku sudah tepat?
Setelahnya, kami benar-benar menuju ke kediaman Mpu Barada. Saat itu satu per satu kami, para kawanan cacing, mengutarakan pendapat masing-masing terkait akan diapakan para mayat tersebut.
“Duhai, Mpu, sesungguhnya aku tak hendak memakan mayat yang telah terkena jampi-jampi gaib itu. Namun … oh, wahai Mpu Guru yang paling bijak bestari … cairan mayat-mayat itu bocor hingga menembusi tanah tempat kami bernaung. Tentu, itu petaka buat kami.” Saat itu aku berkata hati-hati. Meski kutahu kawanku yang gendut itu sedang melotot menatapku. Ahh, ia benar-benar ngotot ingin makan mayat itu. Hiiih!
Lalu tak lama kemudian, Mpu Barada menyuruh para muridnya untuk membakar habis mayat-mayat malang tersebut.
Syukurlah, rumah kami kembali aman.
Begitulah, kisahku, yang kutulis dari balik tanah. Semoga kelak ada yang akan menemukannya.
//Cacing Merah//
Tamat
Bionarasi
Dian Chandra adalah seorang arkeolog S2 UI, nganggur bernama lengkap Hardianti. Puisi-puisinya kerap memenangkan berbagai event menulis. Pada tahun 2022 buku puisinya yang berjudul Jalan-jalan di Bangka masuk nominasi Buku Sastra Utama, pun tak ketinggalan puisinya yang berjudul Kita Menari dan Menyanyi Panji masuk ke dalam puisi piliham dalam lomba Cipta Puisi Grup Facebook Hari Puisi Indonesia 2022. Ia telah menerbitkan 1 novel solo (2021) & 5 judul antologi puisi (2022).

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.