Tentu saja menurutnya ini akan menjadi konflik di antara nelayan dan penambang yang tak diredam lantaran faktor ekonomi.

“Semakin hari lokasi tangkap kami semakin menyempit. Dan apabila dibiarkan lama-lama amarah kami tidak dapat dibendung lagi karena tuntutan ekonomi,” jelasnya.

Ada beberapa desa yang tergabung dalam Pesisir Teluk Kelabat Dalam yang sejak zaman nenek moyangnya, menopang kehidupan dari hasil laut. Menurut Yono, selama ini para masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan tradisional selalu menjaga wilayah tangkapnya dengan sangat hati-hati agar ekosistem yang baik tetap terjaga guna kelanjutan hidup di masa depan anak dan cucu nanti.

“Kami terdiri beberapa desa di Pesisir Teluk Kelabat Dalam. Di sini kami menghidupi keluarga kami dari mencari ikan bukan dari tambang,” imbuhnya.

Baca Juga  Ternyata Puluhan Ton Timah Tangkapan Lanal Babel akan Diselundupkan ke Malaysia

Tak sedikit iming-iming dan buaian para penambang untuk Yono dengan menjanjikan kehidupan yang sejahtera dari kompensasi tambang. Namun ia bersama rekan – rekannya memilih untuk tidak turut andil dalam apapun jenis praktik penambangan liar tersebut.

“Kami cinta laut kami. Lebih baik tidak ikut dan mencicipi dari pada dihantui rasa bersalah,” ujarnya lirih. (East)