Rakasha
Rakasha menoleh seiring masuknya wanita berbaju putih–perawat·diiringi wanita berblazer coklat di belakangnya. Hati Rakasha berdegup kencang, ini kah orang yang ia tunggu-tunggu selama ini? Apakah penderitaannya akan segera berakhir dengan munculnya sosok ini di hidupnya?
Mata Rakasha yang semula redup sedikit demi sedikit mulai menyala kembali. Terlebih saat wanita berblazer coklat tersebut menyapanya dengan senyum lembut.
“Dik Rakasha. Beliau ini lah yang membawa adik dari UKS sekolah ke Rumah Sakit ini,” kata suster membenarkan praduga Rakasha.
“Kalau begitu, terima kasih banyak ya Bu. Sudah membantu saya.
“Iya sama-sama Raksha. Rakasha panggil Bunda aja,” katanya dengan senyum lembut.
“I-iya Bun,” Rakasha dengan ragu menjawab. Ia harus mengontrol dirinya agar bisa menganalisis orang di depannya. Bisa bisa Rakasha keluar dari sangkar harimau malah masuk ke kandang singa.
Tak berapa lama, setelah suster keluar dari kamar rawat Rakasha. Datang sang mama. Rakasha tersenyum kembali, setidaknya mama masih ingat akan keberadaan dirinya. Apakah Mama akan lebih hangat ke depan nanti?
Mama berdiri di sebelah Bunda Rani. Mereka memiliki ekspresi yang sangat berbanding terbalik. Dibanding Bunda Rani yang lembut, mama lebih dingin dan tegas.
“Rakasha, untuk kedepannya, kamu akan tinggal dengan Bunda Rani. Mama akan pindahin kamu ke sekolah yang baru. Ini demi kebaikanmu nak,” Mama mengusap kepala Rakasha dan pergi. Tanpa menunggu satu pun reaksi dari Rakasha yang tengah mencerna informasi mendadak.
Bulir bening itu kembali meluncur deras melewati pipi tirus Rakasha. Rakasha sampai terdiam, dadanya terasa amat sesak hingga ia tak bisa lagi bersuara. Bunda dengan sabar menenangkan Rakasha. Diperlakukan selembut ini, Rakasha kembali teringat akan hangatnya rumah bertahun-tahun silam. Semakin sedih dirasa Rakasha.
Dalam hatinya ia masih berfikir positif. Bahwa inilah lembaran baru kehidupan yang dibawa mama untuk Rakasha. Walaupun amat sakit ketika proses pemberiannya. Rakasha yakin, mama masih memiliki rasa sayang untuk dirinya. Semua ini pasti untuk kebaikannya.
“Sabar ya Nak. Bunda pasti selalu bantu Rakasha selama Bunda bisa,” kata Bunda Rani
Tuhan, tolong kuatkan aku.
Begitu, Rakasha mulai membiasakan diri dengan rumah barunya. Rumah yang lebih hangat dibanding istana lamanya. Rumah yang akan menjadi bukti perubahan hidup Rakasha.
Kamar sudah disediakan sekaligus dengan baju-baju baru. Tak terkecuali seragam sekolah barunya. Semuanya sudah dipersiapkan, kamar itu seakan meyakinkan Rakasha akan kehangatan yang diberikan oleh Bunda Rani. Untuk pertama kalinya, Rakasha terharu hanya karena sebuah ruangan.
Tak pernah Rakasha harapkan perawatan sedemikian rupa telah disiapkan oleh orang asing yang baru memasuki dirinya, tanpa membicarakan berapa banyak uang yang dihabiskan, tanpa sedikitpun keluhan untuk Rakasha yang menyusahkan.
Bunda yang mengerti pikirannya ikut bersedih. Semua ini hanya kebutuhan dasar yang harusnya wajib disiapkan oleh semua orang tua. Tidak ada yang spesial dari itu. Kecuali itu dalam hidup anak-anak senasib Rakasha. Terbukti sekali pendidikan dan kasih sayang sangat berpengaruh pada kehidupan.
“Asha, Bunda punya kabar baik buat Asha. Sini dulu deh,” ujar Bunda di ruang keluarga.
“Iya Bun,” jawab Rakasha, sungguh penasaran dia apa yang membuat Bunda berkata begitu.
“Bunda berhasil Nak. Bunda berhasil menegakkan keadilan untukmu. Kira dan ayahnya terbukti bersalah. Ditambah lagi korupsi dan penyelewengan hak,” jelas Bunda tersenyum haru.
Otot wajah Rakasha yang sudah kaku untuk tersenyum kembali belajar untuk berkontraksi. Rakasha baru menyadari betapa lama ia tak tersenyum. Pipinya sudah kaku. Matanya selalu sayu.
Ditambah lagi, mereka yang menjadi dalang atas kasus pembullyan Rakasha sudah dihukum sebagaimana mestinya. Awalnya Rakasha pikir Bunda hanya mengucapkan janji palsu untuk menyenangkan Rakasha. Walaupun Bunda adalah seorang pengacara, Raksha sama sekali tak menyangka Bunda benar-benar akan melakukan itu demi dirinya.
Tangis harunya meledak. Pecah sudah wajah datar yang selama ini dia bangun untuk menguatkan dirinya. Tembok baja yang dia bangun runtuh diterjang bulir bening yang mengalir di pipinya.
Harapan Rakasha telah dikabulkan Tuhan melalui Bunda.
***
Rakasha mulai tumbuh sebagai gadis yang lebih ceria dan aktif. Walaupun masih sedikit pendiam, setidaknya hidup Rakasha sudah semakin berwarna. Bukan abu-abu lagi.
Berangsur-angsur kehidupan Rakasha membaik. Senyum sudah mulai bisa ia torehkan di hari-hari yang semakin cerah berwarna. Sekolahnya yang baru membuatnya lebih fokus belajar. Belajar hidup lebih normal, selayaknya remaja lain.
Demikian Rakasha mulai bisa merasakan kehidupan remaja normal. Demikian pula ia kembali dilanda haru dan senang. Tatkala ia lewat di pintu ruang kerja Bundanya. Ternyata pemilik suara yang selama ini dirindukannya ada di dalam. Rakasha berhenti untuk mendengar satu atau dua pembicaraan.
“Terima kasih Mbak sudah merawat Rakasha dengan sepenuh hati. Saya ini ibu yang bodoh. Saya tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan kasih sayang saya kepada Rakasha. Biarlah Rakasha tidak mendengar tentang saya dahulu. Demi kebahagiaan Rakasha, biarlah saya menanggung rindu tak berujung,”
Bulir bening kembali menetes di pelupuk mata Rakasha. Sungguh senang ia mendengarnya. Karena ia masih ada dalam hati ibunya. Pikirnya kala itu bukan sebatas angan. Namun nyata.
Begitulah hidup Rakasha. Sisi kelam gadis yang kini memiliki segudang prestasi. Walau seburuk apapun atau sebaik apapun ia, tetap ada orang lain yang tidak menyukainya.
TAMAT.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.