Sebuah Keikhlasan
“Bu Aradiva, kalau saya seriusin gimana?”
***
“Daffa! Ayo buruan! Kamu ini lelet banget sih!” ujar sang mama yang mengomel.
“Iya Ma, ini juga udah siap kok,” kata Daffa yang berjalan menuruni tangga menuju Mamanya. Ia terlihat gagah dan tampan dengan baju batik dipadu celana bahan berwarna hitam.
“Kasian keluarga cewek udah nungguin lho,” ujar Mamanya.
“Iya Mama ku sayang. Ayo kita berangkat,” ajak Daffa.
Daffa pun berjalan bersama Mamanya menuju mobil yang terparkir di halaman rumahnya yang luas. Ia memasuki mobil, terlihat ada papanya dan juga kakak laki-lakinya.
Mereka juga terlihat tampan dengan baju batik dan celana bahan sama sepertinya.
Setelahnya, Papa Daffa segera menjalankan mobilnya. Di belakang, terlihat beberapa mobil juga motor mengikuti dari belakang mobil yang ditumpangi Daffa sekeluarga.
*
Setelah sekitar 20 menit, akhirnya mereka telah sampai pada tempat tujuan.
“Widih, mewah banget dekorasinya. Padahal cuma lamaran,” celetuk Daffa.
“Daff, ayo masuk. Jangan kayak orang ilang di situ,” ujar mamanya, kemudian berjalan duluan.
Terlihat dekorasi lamaran yang cantik berwarna biru dipadu putih. Tak lupa bunga-bunga cantik dan juga gemerlap lampu membuat kesan mewah. Terdapat tulisan juga nama Ara dan Zafi.
“Cieee, yang mau lamaran. Gimana perasaannya?” goda Daffa kepada kakaknya, Zafi.
“Lumayan deg-degan,” jawab Zafi sambil menghela nafas pelan.
“Cantik enggak calonnya bang?” tanya Daffa.
“Daff, diam dulu ya. Gue deg-degan nih. Main hp aja deh,” ujar Zafi dengan sedikit kesal.
“Dih ngambek, kek cewek datang bulan aja Lo bang,” Daffa pun segera bermain game di smartphonenya.
Tak lama, terlihat seorang perempuan cantik yang diapit oleh dua perempuan juga sama cantiknya. Perempuan yang menggunakan kebaya biru dongker itu, duduk bersebrangan dengan Keluarga Zafi. Ia terlihat cantik dan anggun dengan make up tipis dan hijab berwarna krim.
“Daffa. Jangan main hp. Acaranya mau dimulai. Itu calon Abangmu juga udah ada,” tegur Mama Daffa.
“Iya Ma,” Daffa pun memasukkan smartphonenya ke dalam saku celananya. Kemudian melihat ke depan, betapa terkejutnya ia, ternyata perempuan yang akan dilamar abangnya adalah orang yang dia cintai. Benar, Aradiva atau biasa dipanggil Bu Diva jika di sekolah.
“It..itu beneran calon istri Abang?” tanya Daffa terbata-bata sambil melirik Zafi.
“Iya. Kenapa? Keget ya, ternyata guru sendiri akan jadi kakak ipar?” kekeh Zafi.
Daffa tak menanggapi pertanyaan Zafi. Ia hanya diam dan merenung. Sampai acara sudah selesai, namun Daffa tak berbicara walau sepatah kata pun.
“Daffa, yuk foto sini,” ajak Zafi yang di sampingnya terdapat Diva.
Daffa pun mendekat dengan lesu. Kemudian dengan terpaksa ia tersenyum ke arah kamera.
“Aku tinggal bentar ya. Mau ke toilet,” pamit Zafi, kemudian meninggalkan Daffa dan Diva.
“Sakit Bu,” celetuk Daffa setelah beberapa lama ia tak mengeluarkan suaranya.
“Maksudnya?” tanya Diva bingung menatap Daffa.
“Kenapa Ibu enggak bilang kalau sudah mau menikah? Abang saya lagi calonnya,” tanya Daffa kembali. Ia menatap Diva sendu.
“Harus ya Ibu bilang ke Kamu?” tanya Diva.
“Harus lah. Biar aku enggak berharap lebih ke Ibu. Aku terlanjur jatuh cinta sama ibu,” jawab Daffa menunduk kepalanya.
“Ha? Kamu serius?” tanya Diva terkejut.
“Ibu kan yang mengajarkan saya, untuk belajar mengetahui waktu saatnya kita serius dan bercanda. Kali ini saya serius Bu,” jawab Daffa mengangkat kepalanya dan menatap Diva sendu.
“Daffa, ibu minta maaf. Ibu kira kamu hanya bercanda. Ibu..,”
“Enggak apa-apa kok. Ini salah saya yang mudah jatuh cinta. Semoga bahagia dengan Abang saya,” potong Daffa. “Bu, selain rindu yang berat, Mengikhlaskan juga berat,” lanjutnya dengan senyuman pilu. Setelah itu, Daffa perlahan meninggalkan Diva yang menatapnya penuh rasa bersalah.
“Sekarang aku percaya, bahwa ada cinta yang tulus tanpa harus memiliki. Mungkin, ini akan menyakitkan bagiku. Tapi, ini juga untuk kebaikanku. Ternyata benar, puncak dari mencintai adalah mengikhlaskan,” ujar Daffa dalam hatinya yang tanpa sadar meneteskan air mata.
“Gue kok alay banget? Gini nih, kalau anak muda yang lagi mabuk cinta, tapi malah dipatahkan,” Daffa terkekeh geli seraya menghapus air mata nya pelan.
Tamat
Bionarasi
Khoiriah Apriza, Siswi Kelas XI SMAN 1 Airgegas beralamat di Desa Tepus Kecamatan Airgegas Kabupaten Bangka Selatan. Siswi yang aktif menulis ini telah membukukan 4 karyanya tiga antologi dan satu single kumpulan cerpen yang berjudul Ayah, Aku Rindu.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.