“Akhirnya kau sampai! Sudah sekian lama kami menunggu kehadiranmu.

Kau pasti kebingungan, bukan? Biar kuperkenalkan diriku dan adikku. Aku adalah Kehidupan dan ini adikku, Kematian.”

Aku menatap bingung ke arah mereka berdua. Namun, ada sesuatu dari dalam Kematian yang membuatku ngeri.

Kehidupan nampaknya menyadari sikapku, dia langsung kembali bicara.

“Aku tahu sulit bagimu untuk mengerti. Biar kujelaskan padamu, kau sekarang berada di keadaan hidup dan mati. Manusia menyebutnya koma.”

Mendengar itu, bulu kudukku langsung berdiri, “Apa? Tidak mungkin! Apa itu artinya aku akan mati? Katakan padaku jika ini hanya mimpi.”

Kehidupan tersenyum padaku, “Mungkin kalian bisa menyebut ini mimpi. Akan tetapi, hidup dan matimu adalah keputusanmu sendiri. Kau adalah manusia yang beruntung, Tuhan pasti sangat menyayangimu.”

Tiba-tiba saja aku menyadari sesuatu. Kecelakaan itu, rasa sakit itu, dan perasaan itu.

Semuanya adalah jalan menuju apa yang terjadi sekarang. Aku menatap Kematian yang menatapku tanpa ekspresi.

Sedari tadi dia terus diam sambil menatapku. Melihatnya seperti itu membuat ketakutan merayapi diriku.

“Mengapa kau melihat adikku? Apa kau takut padanya?” tanya Kehidupan.

Aku beralih menatap Kehidupan dan tak satupun kata bisa kukeluarkan.

Saat itulah aku mendengar Kematian akhirnya berbicara dengan datar, “Kau tidak perlu takut padaku.”

Dengan rasa terkejut, aku menatap Kematian dengan mata membelalak.

Kehidupan hanya bisa tertawa kecil, lalu dia tersenyum tipis sambil memiringkan kepalanya.

Baca Juga  Hijrah Cinta

“Ternyata benar, kau memang takut pada adikku. Jangan khawatir, kau bukanlah orang pertama.”

Kehidupan memegang erat tangan kananku, sedangkan Kematian memegang erat tangan kiriku.

Aku menatap mereka berdua dengan perasaan sedih dan terluka. Entah mengapa rasanya aku ingin menangis.

“Bisakah aku menjelaskan sesuatu padamu?” Aku pun mengangguk pelan.

Kehidupan melanjutkan, “Begitu banyak orang yang takut pada adikku.

Kehidupan dan Kematian adalah hukum alam. Cepat atau lambat akan terjadi pada seluruh makhluk hidup di dunia.

Itu adalah kewajaran dan tidak bisa dihindari. Kehidupan dan Kematian adalah suatu keseimbangan.

Tanpa ada kematian, tidak akan ada satupun yang lahir. Tanpa ada kehidupan, tidak akan ada satupun yang mati.

Adikku adalah pemandu kematian. Dia tidak pernah menyakiti siapapun. Sebaliknya, dia akan membantu mereka menyucikan diri mereka yang sempat kotor.

Kematian bukanlah hal yang menakutkan, namun tidak untuk dicari. Kematian adalah akan selalu ada dan itu bukanlah ancaman, itu hanya hukum alam yang harus disyukuri.”

Air mataku mengalir dari pelupuk mataku, dengan terbata-bata aku bertanya, “Bagaimana dengan kehidupan?”

“Kehidupan adalah bagian dari setiap makhluk. Kalian akan terus hidup selama jiwa kalian bersama kalian. Kehidupan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Kehidupan adalah hal yang banyak dicari-cari makhluk hidup, namun beberapa juga mempertanyakannya. Untuk itu, jawabannya hanya satu, kau hidup untuk dunia yang Tuhan ciptakan. Tuhan menganugerahimu merasakan kehidupan di dunia ciptaannya.

Baca Juga  Tujuh Karya Keigo Higashino, Novel Angsa dan Kelelawar Rilis Di Indonesia

Membekali akal untuk berperilaku dan berpikir. Kehidupan sungguh menyenangkan jika kau menjalaninya dengan baik. Kehidupan tidak perlu disesali atau dipertanyakan, kehidupan akan selalu menyertaimu karena itulah kau berada di sini sekarang. Intinya, kehidupan dan kematian merupakan hakikat dunia dan anugerah bagi setiap makhluk yang mengalaminya, termasuk kau.”

Saat Kehidupan selesai berbicara, air mataku kembali mengucur. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata haru bahagia.

Aku menatap Kematian yang kini tersenyum tipis padaku. Aku merasakan kehangatan di hatiku. Aku menatap Kehidupan yang masih menatapku lekat tanpa berhenti tersenyum penuh kasih.

“Kau harus memilih antara Kehidupan dan Kematian. Semuanya ada di tanganmu.”

Aku menghela napas dalam-dalam dan berpikir sejenak.

Setelah cukup lama, aku pun berkata, “Aku merasa aku belum meninggalkan apapun di dunia. Masih banyak hal yang harus kulakukan. Masih banyak orang yang membutuhkanku. Masih banyak hal yang harus kuselesaikan di dunia. Namun berkat kalian, aku paham arti dunia. Aku akan terus membawanya ke dalam hatiku. Aku akan mengingat Tuhan dalam keadaan apapun. Untuk saat ini, aku ingin terus melanjutkan kehidupan.”

Kehidupan menatap saudarinya, Kematian balas menatapnya dengan senyum yang jauh lebih hangat.

Dengan itu, Kehidupan mengangkat tangannya sambil tersenyum puas padaku.

Baca Juga  Ikhlas di Atas Luka

“Kau sudah memilih jalanmu. Kami akan menunggumu di lain waktu.” Dengan itu, Kehidupan menjentikkan jarinya.

Cahaya terang memenuhi pandanganku. Perasaan pusing dan mual kembali terasa.

Tubuhku serasa melayang di udara. Seolah angin kencang berhembus liar, tubuhku terdorong ke depan dengan sangat keras. Saat itulah kurasakan tubuhku tersentak. Perlahan-lahan aku membuka kedua mataku.

*****

Cahaya menyilaukan adalah hal yang pertama kali kulihat, itu benar-benar menusuk mataku. Lalu, sosok wanita paruh baya yang kurindukan muncul di hadapanku.

Keriput dan uban tak membuatnya kehilangan kecantikannya. Dari yang kulihat dari ekspresinya, gabungan emosi terlintas dengan cepat di wajahnya.

Aku bisa melihat keterkejutan dan kebahagiaan, namun wajah sembab tidak bisa disembunyikan. Tubuhku masih mati rasa, tetapi itu tidak penting lagi. Kebahagiaan dan ketenangan sedang memelukku saat ini.

“Oh Tuhan, kau bangun! Kau akhirnya bangun. Putraku akhirnya membuka matanya! Oh Tuhan, terima kasih banyak. Tu–tunggu di sini, aku akan memanggil dokter.” Ibu berlari keluar dengan linglung akibat euforia yang dialaminya.

Tidak ada lagi rasa sakit, semua akan baik-baik saja. Aku tersenyum lega sambil memiringkan kepalaku untuk menatap ke luar jendela.

Langit biru dengan awan-awan putih, sebuah ranting kayu besar juga nampak dari samping. Dua ekor burung sedang hinggap di ranting tersebut. Dunia benar-benar indah. Aku akan kembali jika sudah waktunya.

Tamat