Stunting ini, menurut Edih, menjadi prioritas karena tengah menjadi permasalahan utama di dunia internasional.

 

Dampak dari stunting ini bisa meluas utamanya mengancam kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) suatu negara.

“Pemerintah menargetkan prevalensi stunting menurun menjadi 14% secara nasional. Hal ini sesuai dengan komitmen bersama negara lainnya dalam agenda Sustainable Development Goal (SDG) yang menargetkan bebas stunting pada 2030,” ungkapnya

“Pada agenda penurunan stunting, pemerintah menetapkan tiga output prioritas yakni penyediaan makanan tambahan bagi 50.000 ibu hamil kurang energi kronis (KEK) dan 138.889 balita kurus, pengadaan 10.200 unit Bina Keluarga Balita (BKB) kit stunting, dan fasilitasi dan pembinaan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) kepada 8,1 juta keluarga,” lanjutnya.

Baca Juga  1000 Lebih Pencari Kerja Ikut Job Fair Disnaker Babel

Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021, prevalensi stunting di Babel adalah 18,6 persen. Dari 7 daerah tingkat dua, prevalensi stunting tertinggi ada di Kabupaten Bangka Barat sebesar 23,5 persen. Prevalensi terendah ada di Kabupaten Belitung yakni 13,8 persen.