Sahabat Beda Negara (1)
30 menit kemudian
“Akhirnya kalian berdua datang. Kalian sudah tahu kan, namaku? Ayo sini, aku membawa hadiah perkenalan dari Indonesia,” ucap Nayla menyambut mereka sambil mengeluarkan beberapa camilan khas Indonesia, baju batik, dan beberapa gantungan kunci bertuliskan Wonderful Indonesia, akhirnya Nayla bertemu teman sekamarnya, meskipun sudah diberi foto tapi tetap saja tidak sejelas melihat langsung.
“Terima kasih, aku juga punya,” kata Linxia sambil megeluarkan dua set hanfu (pakaian tradisional China) berwarna biru dan pink. Tentu saja Nayla memilih warna pink.
“Aku juga,” sahut Yukari tak mau kalah setelah mengambil set Kimono warna biru, ia mengeluarkan dua set sumpit, gantungan kunci sakura, pembatas buku yang bisa dinamai, kalung dan gelang. Sepertinya dia yang paling banyak bawa hadiah pertemuan.
Setelah saling menukar hadiah, mereka bertiga langsung beristirahat, melepas lelah, menunggu hari esok. Sungguh Nayla sangat penasaran bagaimana aktivitas sekolah besok.
Setelah berunding, ketiganya akhirnya setuju untuk jalan kaki saja, sebenarnya sih lumayan jauh dan lebih nyaman pakai sepeda. Yaa, berhubung sepeda Nayla dan Linxia belum sampai, jadilah begini. Sebenarnya bisa saja sih mereka menyewa atau membeli sepeda, tapi Linxia dan Nayla sudah nyaman dan sayang dengan sepeda mereka sebelumnya. Lagipula tak ada salahnya bisa lihat-lihat pemandangan, sambil bercanda juga.
Sampai di sekolah, ketiganya memilih tempat duduk lalu mengeluarkan sarapan masing-masing, berhubung tadi mereka ingin jalan kaki dan takutnya mual, jadi mereka memutuskan sarapan di sekolah saja, lagipula pelajaran dimulai pukul 08.00. masih lama untuk sekedar menghabiskan sarapan.
Tapi, yang ingin diceritakan di sini, bukan aktivitas sekolah, oleh-oleh, atau apapun itu yang menyangkut-pautkan kehidupan sehari-hari di negara masing-masing, tapi cerita ini, cerita yang sederhana, tentang persahabatan, persatuan akan perbedaan, dan keindahan di dalamnya. Tak terbatas oleh jarak ataupun budaya.
Petualangan ketiganya dimulai pada ulangan tengah semester. Saat itu ketiganya berjuang mati-matian untuk belajar, saling membantu, dan persaingan sehat antarpelajar yang sangat seru. Sampai di mana ketika liburan musim panas tiba, ketiganya berencana berlibur ke tiga negara masing-masing.
Minggu pertama, di taman sakura di Jepang, mereka melaksanakan piknik kecil-kecilan sambil menikmati cherry blossoms yang mekar, ke Hokkaido dengan naik kereta, mencicipi jajanan unik, dan melihat kuil yang ada di sana.
Sekarang, ketiganya tengah berbaring di dekat kuil, di mana tumbuhnya rumput-tumput halus, ketika Yukari berkata,
“Eh, kalau dipikir-pikir, jika keunikan dari ketiga negara itu digabung di satu tempat, di satu negara, pasti jadi lebih unik, kan? Belum lagi, bisa dibuat jadi tempat yang menghasilan uang, setuju tidak, kalau nanti kita bikin tempat seperti itu?”
“Maksudmu, buat seperti taman yang mencakup ketiga negara gitu? Tapi di mana? Di tempatku saja perumahannya sudah sempit, bagaimana kalau di Indonesia?” timpal Linxia
“Boleh juga, di Indonesia masih banyak kok tempat kosong milik keluargaku, awalnya akan kubuat markas kita, bisa jadi ‘kan dibuat di tempatku? Setelah kupikir, aku juga bisa menggunakan lahan luas yang ada di samping rumah nenekku, lumayan kan?”
Akhirnya, ketiga gadis itu setuju untuk membangun taman pertama di Indonesia. Dilanjutkan dengan minggu ke-2, berlibur ke China, tempat Linxia. Adapun soal bahasa, mereka sudah menguasai tiga bahasa ini, meskipun logatnya agak kaku. Tapi mereka tidak terlalu terbatas dalam pembicaraan. Mengelilingi kota yang canggih dengan gedung pencakar langit, otomatis membuat para gadis itu bahagia. Di samping itu, ketiganya bahkan mendapat izin dari orangtua Linxia untuk mengambil sebidang tanah kosong miliki keluarga Xue. Tak menyangka, liburan para gadis itu tidak sia-sia.
Tentu saja, setelah membeli beberapa set tusuk rambut China lalu kembali ke Indonesia, pada minggu ke-3. Sampailah mereka di salah satu bandara internasional Indonesia, sekaligus memberi kejutan pada keluarga Alexander. Kami mengadakan acara kecil-kecilan malam itu, memanggang barbeque, main kembang api, lalu membuat tenda di rooftop dan tidur di sana.
“Hey, menurutmu kemana kita besok?” tanya Nayla. Well, keluarga mereka lumayan kaya, beasiswa yang Nayla dapat itu adalah hasil kemampuan otaknya sendiri, oke?
Bersambung

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.