Sahabat Beda Negara (Tamat)
Satu hari menjelang kembali ke akademi.Di sebuah supermarket.
“Hey, bagaimana kalau yang ini?”
“Tidak, rasa yang ini lebih enak!”
“Itu karena kau belum pernah mencoba rasa soto, jika pernah, huh! Kau akan tahu rasanya!”
“Hey, jangan bertengkar! Nanti kalau dimarahi bagaimana?”
“Diam!”
“Ya ampun! Itu hanya mi instan, oke? Kenapa harus menyebabkan keributan seperti ini?”Rasanya Nayla ingin menangis, tapi tidak punya air mata. Huuu huu huu.
Dua puluh menit kemudian, dua gadis remaja, dengan trolly penuh dengan mie instan dan pegawai supermarket yang ternganga.
“Ini serius mau beli sebanyak ini?” tanya penjaga toko untuk ke dua belas kalinya.
“Kumohon cepatlah Paman, demi mie instant yang harganya selangit di tempat kami tapi sebumi di Indonesia, kami bahkan belum istirahat sejak dua hari yang lalu!” ratap Yukari, hampir menangis.
“Baik, baik, ini, sudah selesai, jangan menangis, ini totalnya masing-masing 1 juta rupiah,” final paman itu.
Setelah urusan souvenir, makanan, sampai gaun batik mereka borong, barulah Nayla bisa tenang untuk tidur. Bangun keesokan harinya, jam 03.00 pagi. Lantas bergegas mengurus hal yang ingin dibawa.
“Heh, Yukari, yakin kau tak mau mandi pagi ini? Meskipun airnya dingin tapi tetap segar oke?” tawar Nayla entah ke berapa kalinya.
“Tidak, tadi malam sudah mandi, mana Linxia?” tanyanya, yang dijawab dengan menunjuk kamar mandi.
Pukul 08.00, Tokyo, Jepang. Ketiganya sudah sampai di asrama, lalu bergegas merapikan hal yang dibawa dan akan bagikan. Lalu menunggu musim panas berikutnya untuk melihat taman hasil karya mereka.
Tak terasa, setelah begitu lama. Musim panas tiba lagi, bedanya, ketiga sahabat itu langsung ke Indonesia, melihat taman tak bernama milik mereka bertiga. Taman seluas 10 hektar, dengan sedemikian rupa didesain.
Melihatnya, hanya teringat kenangan musim panas yang lalu, bedanya, sekarang mereka tengah sibuk mendekor taman, entah itu memasang payung kecil di sepanjang jalan menuju rumah tradisional Jepang, lentera di jalan menuju ke pavilium khas China, dan lampu kerlap-kerlip di jalan menuju rumah tradisional-semi modern DKI Jakarta.
Awal minggu kedua, acara hias-menghias, dekor-mendekor, stok-stok barang telah selesai, kembali berkeliling kota Jakarta. Pengumuman pembukaan taman pribadi untuk khalayak masyarakat juga telah tersebar. Stand-stand makanan sudah terisi tepat satu hari sebelum pembukaan.
Dan, pada tanggal 15, bulan ini, mereka bertiga membuka taman secara resmi. Diperbolehkan juga menyewa baju kimono, hanfu, dan kebaya. Tempat foto dan tiga rumah adat yang diangun. Tetapi taman di bagian depan tetap untuk umum dalam kuasa mereka bertiga. Tentu saja ada aturan-aturan yang harus dilaksanakan.
Hanya dalam waktu 1 tahun, persahabatan mereka sudah sampai tingkat ini. Menghasilkan banyak hal dan kenangan. Pengalaman, bisnis, serta petualangan di berbagai negara. Mereka berharap, tahun berikutnya akan kembali berpetualang seperti ini lagi, dan meraih cita-cita sambil mengembangkan potensi.
Ketiganya, Nayla, Yukari, dan Linxia, akan bersahabat untuk hari ini, esok, dan selamanya.
Tamat

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.