Ilusi Manis
Perpisahan ini selalu menyedihkan, aku harus menunggu lagi untuk bertemu dengannya. Perpisahan terasa sangat panjang, sedangkan kebersamaan terasa sangat singkat.
Dia keluar dari pintu dan menghilang dari pandanganku. Aku mendengar pintu ditutup dan saat itulah aku benar-benar berpisah dengannya.
*****
Kudengar suara ketuka pintu dari depan dan aku segera berlari untuk membukanya. Tampaklah wajah lelah dan kusut suamiku, namun ia masih mampu tersenyum ke arahku.
Dia memelukku, lalu mencium kening dan perutku yang sudah membesar. Aku terpejam saat dia melakukannya karena masih jelas dalam ingatanku saat Marc menciumku.
“Kau sudah bekerja keras,” kataku.
“Yah, semua akan kulakukan untukmu dan jabang bayi kita,” katanya sambil sedikit terkekeh.
“Kau pasti sangat lelah. Pergi mandilah, aku menyiapkan air panas untukmu. Aku juga sudah menyiapkan makan malam untukmu. Aku akan menemanimu makan. Kebetulan aku menunggumu untuk makan bersama.”
“Baiklah, terima kasih banyak, sayang.”
Aku memutuskan menunggunya dengan menonton televisi.
Saat sedang menunggunya selesai mandi, tiba-tiba aku mendengar teriakan suamiku yang menggema memanggil namaku.
Tanpa aba-aba aku langsung berlari ke kamar kami dengan rasa khawatir di dalam hatiku. Saat aku sampai, pemandangan yang kutakutkan justru kulihat.
Kulihat suamiku dengan mata sembab seraya menggenggam erat sesuatu yang tidak bisa kulihat karena tertutup kepalan tangannya.
Tapi aku bisa menebak apa yang dia temukan. Dia sudah tahu rahasiaku. Matilah aku, hancur sudah masa depanku dan calon bayiku.
Aku mencoba mengeluarkan suaraku untuk membela diri, tapi yang kurasakan adalah lidahku kelu dan tubuhku kaku tak bisa bergerak.
Dia menangis sejenak sebelum mengambil nafas dan mencoba bicara, bersamaan saat suaraku kembali. Pada akhirnya akulah yang memutuskan memecah keheningan.
“Aku– aku bisa menjelaskan semuanya. Ini tidak seperti yang kau-”
“Merry.” Dia memotong kata-kataku.
Tamatlah sudah aku, tidak ada lagi toleransi atas tindakanku. Dia sudah tidak mau mendengarkan penjelasanku lagi.
Ini memang salahku sepenuhnya, aku pantas mendapatkan ini. Tapi, bagaimana dengan anakku? Dia bahkan lahir dan belum melihat dunia, apa dia harus menjadi korban akibat keegoisanku?
Suamiku kembali berbicara lagi, “Apa halusinasinya kembali? Kapan terakhir kali kau minum obatmu?”
Aku terdiam dan tidak tahu harus berbicara apa. Dia membuka tangannya untuk menunjukkan botol yang penuh dan tak tersentuh. Kurasakan sebutir air mata mengalir di pipiku. Marc tidak pernah ada, dan tidak akan pernah ada.
Bayi itu milik suamiku, bukan milik Marc atau siapapun. Aku tidak pernah berselingkuh, itu hanya ada di dalam imajinasiku.
Harusnya aku tahu bahwa semua ini terlalu bagus untuk jadi nyata. Marc terlalu sempurna untuk menjadi nyata.
*****
Sudut pandang orang ketiga
Brian tidak pernah merasa lebih bersyukur daripada sebelumnya. Akhirnya Merry-nya kembali seperti semula. Dia kembali mencintainya dan tidak bersikap kasar seperti sebelumnya.
Brian pulang dengan perasaan bahagia dan tidak sabar bertemu Merry dan calon buah hati mereka.
Brian lebih senang lagi saat melihat Merry menyambutnya dengan hangat dan mengatakan bahwa dia menunggunya untuk makan bersama.
Sudah lama Merry tidak berimajinasi tentang Marc lagi, jadi dia tidak lagi khawatir saat akan meninggalkannya.
Namun, ternyata pemikirannya tersebut adalah kesalahan besar. Karena Brian dengan pahitnya menemukan pil obat Merry di dalam laci. Pil itu terisi penuh dan tak tersentuh.
Brian tidak ingin percaya bahwa istrinya kembali berhalusinasi lagi, namun catatan yang berisi surat untuk Marc, sudah cukup menjadi bukti bahwa Merry kembali bertemu dengan-nya.
Hati Brian terasa perih dan ketakutan kembali merayapinya. Dia tahu bahwa Merry dan calon bayinya bisa dalam bahaya jika ini terus dibiarkan.
Jadi, di sinilah mereka sekarang. Merry menangis tersedu-sedu dalam dekapannya. Brian tidak tahu lagi harus berbuat apa, dia hanya berharap Marc ini segera pergi dari hidup Merry.
Tamat
Sheila Fiorencia Caroline, Siswi SMKN 1 Sungaliat

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.