Gagal Move On
“What? Di jodohkan?!” teriak Anara dengan muka yang syok.
“Iya, kamu akan ayah jodoh kan sama anak teman ayah dan bunda. Sebentar lagi, juga bakal datang sama keluarga nya,” ujar ayah dengan santai.
“Ayahh, Anara udah gede! Ini juga bukan zaman Siti Nurbaya! Anara bisa cari jodoh sendiri kok,” Anara kesal hingga tanpa sadar meneteskan air matanya.
“Percuma kamu nangis An, mereka sudah dalam perjalanan menuju ke rumah kita.”
“Enggak usah drama pakai nangis air mata buaya, enggak mempan!” ujar bunda.
“Ihh bunda kok gitu. Ini air mata manusia, bukan air mata buaya,” rengek Anara.
Tok tok tok
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh”
“Nah, seperti nya mereka udah datang. Ingat, harus yang sopan, jangan banyak tingkah,” ujar Ayah, kemudian berjalan untuk membuka pintu.
Sedangkan Anara, ia menundukkan kepalanya. Matanya nampak memerah menahan tangisan, kedua tangannya pun meremas gamisnya.
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Masya Allah, mari masuk,” ujar Ayah Anara.
“Aida, apa kabar?” sapa Bunda yang memeluk seorang wanita paruh baya.
“Alhamdulillah, baik. Kamu gimana Nis?” tanya perempuan tersebut.
“Alhamdulillah aku juga baik. Oh ya, ini Anara, anak ku,” ujar bunda Anisa, sambil mengajak Aida duduk di samping Anara.
“Anara, Salim sama Tante Aida,” suruh bunda.
Anara pun menurutinya. Namun, kepalanya tetap ia tundukkan.
“Haduh, Anara. Maklum ya, Anara malu-malu kucing soalnya,” ujar Ayah dengan terkekeh.
“Anara, yakin kamu enggak mau lihat calon suami kamu?” tanya bunda.
“Nanti nyesel lho An, anak tante masih muda kok. Bukan om-om,” tambah Tante Aida, sambil mengelus tangan nya Anara yang dingin.
“Ya Allah, sampai dingin gini lho,” kekeh Tante Aida.
“Enggak kok Tan. Biasa aja,” Anara menarik tangannya, kemudian secara perlahan mengangkat kepalanya. Anara tersenyum kepada Tante Aida.
“Ekhmm, gitu kan kelihatan wajahnya yang cantik.” Celetuk seorang laki-laki yang duduk di pinggir kursi.
“Hu-Husain?! Kamu ngapain di situ?” tanya Anara terkejut.
“Duduk,” jawab Husain enteng.
“Kalian saling kenal?!” tanya orang tua mereka hampir serempak.
Sedangkan Anara dan Husain, terdiam menunduk kan kepalanya. Setelah beberapa saat, Mereka berdua mulai menceritakan kisah percintaan mereka dua tahun yang lalu. Awalnya, orang tua mereka kecewa, namun karena sudah menjadi masa lalu, akhir nya mereka memaafkan nya.
“Oh gitu. Ya udah,” ujar Ayah Anara.
“Ya udah apa yah?” tanya Anara bingung, begitu pun yang lainnya.
“Kalau udah saling kenal, berati enggak perlu pakai acara ta’arufan lagi. Langsung aja, 2 Minggu lagi akad nikah,” ujar Ayah Anara sambil tersenyum manis.
“Apa?!” teriak Anara dan Husain serempak.
“Setuju!” teriak Bunda dan Bu Aida serempak, kemudian saling berpelukan. “Akhirnya, kita bisa jadi besan ya,” ujar bunda yang dibalas anggukan antusias dari Aida.
“Kalian setuju kan?” tanya Aida.
“Iya Bu, setuju,” ujar Husain.
“Anara, bagaimana?”
Anara hanya bisa mengangguk kan kepalanya pelan, “Iya Tante, in syaa Allah setuju.”
“Fyuh,,, Capek-capek ngelupain, eh malah jadi jodoh. Bener ya kata orang, kalau jodoh enggak akan kemana. Tapi enggak apa-apa deh, aku kan juga masih Gamon sama Husain. Gagal move on maksudnya. Haha…” ujar Anara di dalam hati nya sembari tersenyum bahagia.
Tamat.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.